Dilla; Belajar 12 Nilai Dasar Perdamaian, Belajar Menerima Diri Sendiri

Sudahkah kita menerima diri kita seutuhnya?

Saya Nur Fadilla, lahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sebagai seorang anak pertama, sudah tentu pasti saya harus menjadi contoh yang baik bagi adik-adik saya. Saya selalu merasa bertanggungjawab lebih kepada adik-adik saya. Tidak ada paling bahagia dari hidup saya, kecuali mengingat satu hal bahwa saya sangat dicintai oleh keluarga saya. Dulu, saya adalah orang yang ingin melihat segala sesuatu dengan sempurna, nilai harus di atas rata-rata, semua harus sesuai berjalan sesuai yang direncanakan, selalu percaya diri dengan segala pencapaian yang saya raih. Lupa kalau saya hanya manusia. Hingga tiba suatu saat saya merasa insecure dengan diri sendiri, setelah harus mengalami sakit pada masa-masa penyelesaian tugas akhir saya di kampus membuat saya merasa tidak percaya diri lagi. Belum sembuh dari sakit, kehilangan sosok kakek-nenek yang sangat saya sayangi dalam waktu yang sangat berdekatan, membuat saya benar-benar dalam masa sulit. Sisi manusiawi dari diri saya merasakan kesulitan saat saya mencoba berdamai dengan segala keresahan, kebimbangan, kekurangan dan segala ketidaksempurnaan. Semua hal itu, adalah hal yang tidak mudah saya jalani.

Saya bersyukur mengenal seorang perempuan yang darinya pula saya menjadi memiliki sosok Ibu dan kakak di saat saya berada jauh dari keluarga saya. Namanya Reni Susanti, saya biasa memanggilnya Mam, perempuan berdarah Jawa yang kebetulan bertemu dengan saya ketika menjadi volunteer dan beliau sebagai penanggung jawab di sebuah acara yang digelar di Makassar, juga Kak Cida yang sama-sama menjadi volunteer waktu itu, yaitu Peacetival atau Festival Perdamaian. Waktu itu, di awal tahun 2017, awal saya mengenal dan mengetahui apa itu PeaceGeneration Indonesia meskipun belum sepenuhnya mengetahui. Kemudian, setelah itu saya tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang erat kaitannya dengan perdamaian. Seperti Student Interfaith Peace Camp yang saya ikuti di Jogjakarta pada pertengahan tahun yang sama, sepulang dari sana saya semakin tertarik untuk belajar tentang nilai perdamaian lagi di Makassar. Hingga pada bulan Oktober saya mengikuti Pelatihan Pendidikan Perdamaian Untuk Guru dan Pemuda  di Makassar yang diselenggarakan oleh Peace Generation Indonesia untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya dilaksanakan di bulan Februari sebelum Peacetival berlangsung.

Pada awal tahun 2018, saya mencoba untuk bergabung bersama tim Office PeaceGeneration Makassar bersama Mam Reni dan Kak Cida untuk menyelenggrakan BoardGame for Peace di Makassar. Dua sosok perempuan yang mengajarkan banyak hal, tentang pentingnya untuk berkata ‘tidak’, tentang berpikir positif, tentang kerjasama tim, tentang menghargai sesama dan masih banyak hal lain yang tak bisa saya sebut satu per satu. Kemudian, saya dipercayakan menjadi Koordinator Acara bersama Kak Nita pada Peacetival Convey 2018 di Makassar. Pada saat itulah, saya benar-benar merasa harus bangkit dari kesedihan saya bertekad untuk menyelesaikan tugas akhir saya setelah menyukseskan acara tersebut. Dan, Alhamdulillah semesta mendukung, saya dapat selesai pada waktunya.

Banyak hal yang telah saya pelajari dari 12 Nilai Dasar Perdamaian, selain karena pelajaran yang disampaikan adalah nilai yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, juga didemonstrasikan melalui permainan yang seru, kreatif, tidak menggurui serta mudah dipahami dan dimaknai dengan baik. Di antara 12 nilai yang dipelajari, ada satu nilai dari pelajaran pertama yang paling mengubah hidup saya sampai hari ini. Yaitu bangga jadi diri sendiri. Bukan berarti nilai lain tidak memberikan perubahan, tentu saja semua nilai itu saling berkaitan satu sama lain. Intinya adalah, menerima diri dulu, kemudia menerima orang lain, memaafkan diri dulu, kemudian memaafkan orang lain.

Selama di PeaceGeneration Makassar, banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Tugas saya,  selain membantu di kantor PeaceGen Makassar, kadang-kadang memfasilitasi training, peace bulding atau games perdamaian. Banyak hal yang berkesan bagi saya, namun yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat mengajar di Peacesantren Lakkang, karena harus menyusuri Sungai Tallo naik perahu dengan motor juga ikut serta, kolaborasi dengan Teras Baca Taeng,  ikut dalam diskusi dan kegiatan positif,  bertemu dengan banyak orang, menyerap energi positif agar hidup tidak melulu berkutat pada satu masalah yang sama.

Akhirnya, setelah melalui pergolakan batin yang agak lama saya menyadari bahwa berdamai dengan diri adalah menerima diri dengan segala ketidakberuntungan yang saya miliki, baik status sosial, keluarga, maupun dalam kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Semua itu adalah bagian dari berdamai dengan diri yang harus saya pahami dengan baik. Saya mengamini bahwa rasa bahagia dan sedih kerapkali datang dari respon saya terhadap kelebihan dan kekurangan yang saya miliki. Intinya adalah, seberapa besar usaha saya untuk mensyukuri hal tersebut.

Bukankah hidup bahagia sangat tergantung dari sudut mana kita memandang hidup itu?

 

Penulis : Dilla Nurfadilla (Koordinator Chapter Makassar Oktober 2019 – Januari 2020)

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke [email protected]