Ninin Karlina: Dari Pembenci Jadi Pendamai

Pembenci itu sangat mudah ditemukan.  Hampir di setiap aspek kehidupan, menjadi sosok pembenci itu tidaklah sulit.

Teman-Teman perkenalkan namaku Ninin, Umurku 31 tahun, sejak kecil aku terbiasa hidup dilingkungan yang homogen.

Aku tinggal di lingkungan Islam Muhammadiyah, ayahku pimpinan Muhammadiyah sekaligus menjadi Dewan Kyai disalah satu pesantren Muhammadiyah Sukoharjo, dan di Pesantren modern Muhammadiyah inilah aku menuntut ilmu selama 6 tahun, aku banyak belajar ilmu Agama disini sampai aku berkeyakinan bahwa Agama dan ormas yang kuanut paling baik dan benar, bagiku diluar agama dan ormasku adalah ancaman dan menyesatkan, jangankan non Islam bahkan sahabat se imanku Nahdlotul Ulama saja sering aku bully, sempat aku berkata ke teman-temanku bahwa mau haji tujuh kali sekalipun kalau masih NU maka tidak bakalan masuk syurga karena semua warga NU ahlul bid`ah dan bid`ah itu adalah kesesatan, entahlah waktu itu aku mendefinisikan bid`ah itu apa.

Tak hanya itu aku juga sering mengatakan acara-acara sholawatan warga NU itu seperti pergelaran topeng monyet, bahkan kalah menarik dari pada aksi-aksi lucu monyet, dan aku juga tidak tau apa alasanku membenci orang-orang diluar keyakinanku.

Lebih parahnya lagi ketika ulangan atau ujian materi Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, aku tidak pernah serius dalam menjawab, sesekali aku jawab dengan ayat-ayat Al Qur`an dan Hadits, sama sekali tidak berfikir jawaban-jawabanku itu menyinggung guruku apa tidak, yang kutahu Pancasila itu tidak sejalan dengan ajaran Islam, dan menghormati bendera adalah syirik karena menjadikan Alloh sebagai tandingan, aku merasa paham Islam tapi perilakuku tidak mencerminkan  keislaman tersebut, karena aku sedikit hormat kepada yang lebih tua tapi awam pemahaman agamanya dan tidak ada kasih sayang kepada orang yang berbeda denganku, bagiku sikap seperti ini itu baik dan benar kala itu.

Waktu terus berjalan, aku mulai beranjak dewasa, tapi sikap keberagamaanku tak kunjung dewasa, tahun 2005 waktu masih duduk dikelas 11 dan sedang menjabat sebagai ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah di ranting pesantrenku, aku mewakili Pesantren gabung dengan organisasi dakwah yang kuanggap sejalan dengan Muhammadiyah, namanya ARIMATEA atau kepanjangannya Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah yang terpadu Efektif dan Aktual, dengan misi utama menjelaskan dakwah Islam kepada non Muslim, juga bertujuan untuk menghadang serangan pemurtadan, setauku dakwah ini mengajak non muslim masuk islam tapi dengan cara menyerang ayat-ayat yang terkandung dalam Injil, aku ikut training ARIMATEA ini selama 3 hari di Ponpes Assalam Surakarta pada tahun 2005 bersama kedua temanku, dari forum inilah aku mengenal seorang perempuan mantan biarawati yang banyak memberiku pengertian tentang kesalahan-kesalahan Injil sekaligus diajarin bagaimana membukanya, karena memakai bahasa pasal dan ayat yang aku kurang memahaminya saat pelatihan berlangsung, aku makin membenci Kristen bahkan Injil yang kubawa saja kujatuhkan dan ku injak-injak, setelah pelatihan itu aku makin tertarik mengikuti acara debat lintas iman dan paling sering kuikuti debat Islam-Kristen, waktu itu aku suka sekali mencari-cari titik seteru dan titik pemantik konflik.

Enam tahun sudah aku menuntut ilmu di Pesantren, setelah lulus aku langsung direkrut menjadi salah satu staff pengajar di Pesantren tempat aku belajar, hari-hariku mendampingi belajar dan kuliah disalah satu Universitas Muhammadiyah, dengan fokus studi Perbandingan Agama.

Aku memilih jurusan ini terinspirirasi dari kegiatan-kegiatan ARIMATEA yang sering ku ikuti biar mengerti titik-titik lemah agama selain Islam, aku aktif di beberapa organisasi kampus dari Himpunan Mahasiswa Jurusan, Badan Ekesekutif Mahasiswa, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan sempat menjadi ketua Ar-Rasail yaitu semacam pengembangan kemampuan berbahasa arab.

Peace People, baca juga capaian kami setiap bulan di Nawala!

Aku menjalani kehidupan perkuliahan seperti mahasiswa pada umumnya, selama kuliah aku mempelajari semua agama, dari Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghuchu dan Yahudi, selain agama-agama aku juga belajar tentang aliran kepercayaan. Selain kuliah aku juga sering diundang kesekolah-sekolah, kampus-kampus, atau komunitas-komunitas untuk berceramah, kacaunya isian ceramahku begitu ekslusif, aku kurang bisa terbuka dengan kelompok lain selain kelompokku, sehingga kurang bisa membawa kemaslahatan dan kebermanfaatan buat umat dan masyarakat.

Seiring berjalannya waktu aku mengenal Muhammadiyah lebih dalam, dan sedikit menyadari apa yang kulakukan itu justru tidak sesuai yang Muhammadiyah ajarkan dengan dakwah khasnya berkemajuan, yaitu Islam yang menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia. Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan manusia baik laki-laki maupun perempuan tanpa diskriminasi.

Islam yang menggelorakan misi anti perang, anti terorisme, anti kekerasan, anti penindasan, anti keterbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk pengrusakan di bumi, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kejahatan kemanusiaan, eksploitasi alam, serta berbagai kemungkaran yang mengancurkan kehidupan, Islam yang secara positif melahirkan keutamaan yang memayungi kemajemukan, suku bangsa, ras, golongan dan kebudayaan umat manusia dimuka bumi, aku mulai sadar tapi tak tahu harus berbuat apa, semenjak itu aku mulai galau dan gelisah.

Kegelisahanku bertambah ketika menyaksikan anak-anak muda baik pelajar maupun mahasiswa bahkan orang tua mempunyai pemahaman sepertiku dulu yang eksklusif dan intoleran, ini benar-benar kondisi yang kacau, Agama tidak lagi menawarkan kedamaian, keharmonisan, ketentraman, tapi justru menjadikan agama sebagai alat pemecah belah, media adu domba, alat provokasi, duri peradaban dan faktor disharmonisasi, dan barisan ini mulai menguat ketika ustadz-ustadz atau Kyai-Kyai konservatif kenceng menyuarakan fatwa-fatwa primitif sepaket dengan syiar kejumudannya, yang menurutku inilah salah satu yang menyebabkan masyarakat salah mengintrepetasikan hijrah, khilafah, jihad, akhir zaman, dsb, mulai saat itu aku pengen sekali bisa menjadi muballighoh moderat yang bisa mensyiarkan Islam berkemajuan, tapi bingung cara apa yang harus aku pakai di era digital seperti ini, dan setiap memikirkan ini selalu saja timbul keputus asaan.

Beruntung sekali Alloh menjawab kegelisahanku dengan mempertemukanku dengan Peace Generation ditengah tahun 2017, ketika Muhammadiyah lewat lembaga penanggulangan bencana akan bekerjasama dengan Peace Generation dalam program Sekolah Ceria Damai Dan Siaga Bencana, yang memadukan kurikulum penanggulangan bencana Muhammadiyah tentang bencana alam dan Nilai Dasar Perdamaian Peace Generation yang fokus di bencana social.

Sebenarnya program ini aku cuma membantu seniorku di Muhammadiyah tapi ternyata aku mendapat bonus berlipat, berupa ilmu luar biasa yang langsung kudapat dari Kang Irfan selaku Direktur PeaceGen, dengan izin Alloh kegelisahan-kegelisahan itu mulai terjawab, akhirnya aku menemukan formula baru untuk membuat perubahan dalam diriku, materi-materi dasar perdamaian dari Peace Generation sangat berkontribusi dalam perubahan hidupku, dari aku yang tekstual menjadi aku yang kontekstual-transformatif, dari aku yang ekslusif menjadi aku yang inklusif-humanis, dari aku yang intoleran menjadi aku yang toleran-pluralis, dst.

Setelah bertemu Peace Generation aku sering mengikuti forum yang berbeda, dari beda ormas sampai beda keyakinan untuk menambah wawasan dan mengenal mereka lebih dekat, aku lebih terbuka tanpa meredupkan keyakinan yang ku anut, dan bagiku perubahan itu belum lengkap ketika belum bisa membawa perubahan untuk umat dan masyarakat, maka dari itu materi-materi perdamaian selalu aku sampaikan tiap kali mendapat kesempatan untuk menyampaikan materi, biar materiku tersampaikan dengan baik aku selalu melakukan assesment komunitas yang menjadi sasaran syiarku, dari latar belakang komunitas, umur komunitas, dsb, sehingga aku bisa mengemas metode penyampaian materi sesuai kebutuhan komunitas, dan ternyata Peace Generation juga mengubahku, dari aku yang dulu muballighoh konservatif, kini aku menjadi muballighoh moderat-progressif, yang menyuarakan Islam di Indonesia yang wasathiyah, Islam jalan tengah yang inklusif, akomodatif, toleran dan damai.

Sampai sejauh ini aku belum puas juga, ternyata pengetahuan saja tidak cukup, aku masih mencari-cari cara untuk syiar tapi dengan media yang mudah dipahami dan dimengerti, terutama untuk generasi muda, dengan izin Alloh aku bisa mengikuti kembali salah satu program kreatif Peace Generation di akhir tahun 2018, namanya BGFP atau Board Game For Peace yaitu sebuah program yang mengajarkan nilai-nilai perdamaian dengan media kreatif yang seru dan menarik, dengan Board Game ini aku jadi punya cara baru untuk syiar perdamaian, dan terbukti Board Game ini telah membantuku untuk menangkal ekstrimisme seorang santri yang dalam dirinya ada bibit-bibit ekstrimisme, yang sebelum bermain mengatakan boardgame itu haram dan setelah bermain mengatakan game itu sangat bermanfaat, banyak pelajaran yang bisa diambil, juga membawa dampak positif dan bersedia menjadi Agent of Peace di Solo.

Berikut praktik baik yang pernah aku lakukan:

  1. Trainer NDP di SD kristen stabelan surakarta, Agustus 2017
  2. Pengenalan program Sekolah Cerdas untuk keluarga besar MIM PK Batang, Agustus 2017
  3. Trainer NDP di SD Muh 18 Surakarta, 2017
  4. Trainer NDP di SMP muh simpon surakarta, 2017
  5. Tim Monitoring Sekolah Cerdas 12 Daerah di Jateng
  6. Fasilitator BGFP Solo 2017
  7. Narasumber pada Pendidikan Kebencanaan Alam dan Sosial PW Aisyiyah Jawa Tengah, 2017
  8. Observer BGFP Solo 2018
  9. Narasumber (Perjalanan Menyebarkan Damai dengan Boardgame) di Convey 1, Maret 2018 di Fairmont Hotel Jakarta
  10. Pemateri Pesantren kilat SMP 1 Sukoharjo tentang Stop bullying, tidak ngegank Juni 2018
  11. Narasumber di Mahasiswa Baru FIB UNS “Management Konflik”, Agustus 2018
  12. Pemateri di Ahmad Dahlan Boarding School Sukoharjo “Sosmed sehat dan stop hoax” pada MPLS, Juli 2018
  13. Pemateri di MPLS SMP Muh Dimsa Sragen “Management Konflik”, Juli 2018
  14. Narasumber pada riset PSKP UGM tentang “Dua menyemai damai, peran dan kontribusi Muhammadiyah dan NU” sebagai perwakilan perempuan penebar damai, Januari 2019
  15. Pemateri di Karang taruna Polokarto Sukoharjo, tentang “Beda Keyakinan Tetap Berteman” Juni 2019
  16. Pemateri di Peacesantren Ramadhan 2019 (NDP)
  17. Narasumber di RRI solo tentang “memerdekakakan linimasa dari hoax” agustus 2019
  18. Seminar Nasional kemuslimahan “Masifikasi Gerakan Muslimah berkemajuan” November 2019
  19. Seminar kemuslimahan “Be awe Inspiring Muslimah” November 2019
  20. Pemateri di latihan kepemimpinan inklusif di SMP N 1 Sragen “Management konflik” November 2019
  21. Pemateri kuliah umum di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta “Mahasiswa Menyamai Damai” November 2019
  22. Pemateri di Training motivasi “Mengenali diri/Who I am” di SMPIT Mardzotillah Sukoharjo November 2019

Dan masih banyak kegiatan yang sudah kulakukan terkait perdamaian yang tidak bisa aku tuliskan disini satu persatu. Dari semua kegiatan yang aku lakukan tersebut berisi tentang syiar perdamaian dan selalu berdampak positif pada setiap peserta. Sehingga pada saat itu membuat aku sangat peduli dan harus terus berbuat sesuatu untuk misi perdamaian di Indonesia, dan kini aku menjadi Ketua Peace Generation Solo sebagai jalan untuk mewujudkan perdamaian yang aku cita-citakan.

Terima kasih Peace Generation…

 

Penulis: Ninin Karlina, Ketua Chapter Peace Generation Solo

Do you have a story of change? Send your story to aop@peacegen.id

 

Peace People, untuk mengetahui informasi selengkapnya tentang PeaceGen, silahkan klik di sini!