Frosh Project Untuk Olivia: Menemukan Aku dan Identitasku

Frosh Project menjadi awal segalanya. Sebagai sebagian dari mahasiswa rantau, mengalami kendala dalam beradaptasi di lingkungan yang baru. Berasal dari daerah asal yang berbeda-beda, budaya serta kebiasaan yang berbeda-beda, belum lagi masih mengalami homesick atau kangen rumah. Saya adalah salah-satunya. Saat itu saya belum memiliki teman.

Bertemu dengan banyak orang baru menyebabkan saya mulai berasumsi dan membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. “Oh, dia dari SMA yang terkenal… Oh, sepertinya dia orangnya begini…dsb”. Lama kelamaan, hal tersebut menjadi kebiasaan dan menghambat saya dalam bersosialisasi dengan orang lain. 

Frosh Project
Para punggawa Forsh Project bersama-sama menjalani kegiatan yang hangat dan penuh canda.

Suatu hari saya dikenalkan dengan Frosh Project. Pada awalnya saya hanya iseng mengikuti kegiatan tersebut. Tidak disangka, baru mentoring pertama saya langsung dikagetkan dengan materi yang diberikan. Materi tersebut adalah Castle of Mirror. Diibaratkan seperti saat kita berada di dalam kastil yang penuh cermin, kita akan merasa kebingungan. Saya menyadari bahwa materi tersebut berhubungan dengan apa yang saya rasakan di dalam diri saya. Saya mulai menyadari, setiap orang memiliki banyak sekali identitas. Mulai dari tanggal lahir, golongan darah, agama, suku, hingga hal-hal sederhana seperti menyukai sosis, menyukai musik balada, dan lainnya.

Mau tau Nawala PeaceGen bulan September lalu? Baca selengkapnya di sini!

Karena banyak identitas inilah, setiap orang unik. Jika dikelompokkan, ada saat kita berbeda kelompok dengan seseorang, tapi ada juga saat kita bisa berada di satu kelompok yang sama dengan orang tersebut. Misalkan saja, Oliv berasal dari Kota Padang tetapi Lita berasal dari Kota Bojonegoro. Berbeda kan? Tetapi, ternyata Oliv dan Lita sama-sama menyukai drama Korea. Nah, jadi ada persamaan. Setiap orang juga bisa memilih, identitas apa yang lebih diprioritaskan. 

Lantas, bagaimana jika prioritas identitas kita berbeda? Tentu saja itu bukanlah masalah yang besar, karena tetap saja pasti ada 1 identitas yang sama. Misalkan saja, Oliv lebih mengutamakan identitasnya sebagai warga negara Indonesia yang bangga menggunakan Bahasa Indonesia. Tapi, Febry lebih mengutamakan identitasnya sebagai keturunan suku Minangkabau yang bangga menggunakan Bahasa Minang. Tetap saja, Oliv dan Febry masih bisa berteman karena sama-sama mahasiswa ITB yang kebetulan bertemu di asrama.

Jadi, perbedaan adalah hal yang wajar bukan? Masing-masing dari kita tentu saja berbeda. Akan tetapi, pada akhirnya kita pasti memiliki suatu persamaan. Kita semua sama-sama manusia yang diciptakan oleh Tuhan! 

Perbedaan juga tidak menghambat kita untuk ingin bersosialisasi dengan orang lain. Kita tidak perlu sama ataupun menyamakan diri dengan orang lain setiap saat. Kenalilah Identitas diri kamu sendiri. Terimalah perbedaan yang ada. Berdamailah dengan dirimu sendiri juga sekitarmu. Hidup itu harus santuy loh, jangan dibawa ribet karena hidup itu sendiri emang udah ribet😊

Oleh: Olivia (Mentor Frosh ITB)

Editor: Faza Rahim

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id !

Peace People, untuk informasi terkini kamu bisa dapatkan selengkapnya di sini!