Peace Educator: Menjadi Penyebar Damai Tidaklah Mudah, Tapi Bukan Berarti Mustahil

Peace Educator
Foto: Masyita Nur Ramadhani

Peace Educator menjadi tujuan saya dalam menyebar damai. Meski tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa. Banyak hal yang terjadi saat saya menebar damai, namun terbayarkan dengan seluruh senyuman dan kebermanfaatan yang berdampak dan tersebar.

Saya seorang mahasiswi psikologi disalah satu universitas besar di Kota Daeng, yaitu Makassar. Kota yang memiliki empat suku yang berbeda dengan puluhan nilai yang berbeda pula.

Dengan latar belakang perbedaan tersebut membuat otak saya berputar, bagaimana caranya saya dapat bermanfaat untuk orang banyak. Saya ingin membantu orang lain dalam menyebarkan virus-virus perdamaian, khususnya di kota  yang terkenal dengan ‘kekerasan’ ini.

Bagaimana saya harus memulainya?! Semua pertanyaan itu bersarang di kepala saya, hingga saya menepis semuanya dan mulai untuk bergerak saja. Kegiatan Board Game for Peace (BGFP) membuat cara berpikir saya dalam memandang dunia kini berbeda.

Saya menjadi open minded dan lebih memprioritaskan berkomunikasi tanpa judge terlebih dahulu. Kini saya juga lebih sering mendengarkan daripada mengabaikan. Semua perubahan itu saya sebarkan perlahan ke komunitas lain yang saya ikuti sebagai seorang peace educator.

Setiap malam saya berefleksi, menulis surat di microsoft word tentang apa yang terjadi seharian. Apa yang saya rasakan dan pikirkan pada saat itu adalah pembelajaran apa yang saya dapatkan dan apa yang akan saya lakukan kedepannya. Muncullah ide untuk mengkolaborasikan ilmu psikologi saya dengan board game yang saya miliki.

Perjalanan Menebar Virus Damai Menggunakan Board Game

Difabel. Itulah komunitas yang pertama kali saya pikirkan dalam mengkolaborasikan ilmu psikologi dan board game. Saya kemudian menuju ke sebuah komunitas “Sabtu Satu Atap”, sebuah komunitas yang bertujuan untuk menghapus diskriminasi pada teman-teman difabel.

Dalam satu sekolah tersebut terdapat siswa-siswi difabel yang disandingkan satu atap dengan teman-teman non-difabel. Teman-teman difabel ternyata banyak mengalami diskriminasi.

Dengan berkolaborasi bersama komunitas ini, saya menawarkan untuk membuat satu program peace yang mana bisa mengajarkan perdamaian dari usia dini.

Saya menggunakan board game dengan aturan main yang saya ubah sedikit agar lebih mudah dipahami. Alhamdulillah, teman-teman komunitas menyetujui hal tersebut begitupun pihak sekolah. Pada hari Sabtu, saya kemudian datang sebagai peace educator dan mulai bermain dengan teman-teman difabel dan non-difabel.

Saat bermain saya tidak memisahkan mereka, melainkan menggabungkan mereka kedalam satu kelompok. Ekspektasi saya yang mengira hal ini tidak akan sulit untuk dijalani ternyata malah sebaliknya. Saya merasa bahwa saat itu sangat sulit untuk dijalani.

Pertemuan pertama tidak berjalan sesuai dengan rencana. Ada beberapa kesulitan, terutama dalam komunikasi. Tapi saya tidak meyerah begitu saja. Setelah saya pulang dari kegiatan, saya kemudian melihat kekurangan serta kesulitan saya saat menjalankan program tersebut.

Teman-teman yang mengidap autism tidak jarang tiba-tiba pergi, mengamuk, dan ada yang tiba-tiba menghancurkan tumpukan kartu. Tidak hanya itu, teman-teman tuli juga tidak dapat memahami apa yang saya sampaikan, sehingga saya butuh bantuan guru untuk mengartikan apa yang saya sampaikan kepada mereka.

Sedangkan teman-teman non-difabel merasa tidak betah menunggu terlalu lama mendengarkan penjelasan saya. Belum lagi teman-teman yang mengalami gangguan hyperactive membuat saya harus lari kesana kemari. ‘Saya tidak bisa sendiri’ batin saya malam itu mengatakan itu.

Lalu, saya kepikiran untuk memanggil teman-teman yang satu misi dengan saya. Dengan berbekal satu board game, saya kemudian menyebarkan virus perdamaian di kampus. Saya mengajak teman-teman satu prodi bermain dan kemudian menjelaskan maksud dan tujuan mengapa saya mengajak mereka bermain board game.

Tidak satu atau dua orang saja menolak, beberapa teman saya juga merasa bosan dan tidak ingin terjun bersama ‘misi’ saya. Sakit? Iya pasti. Menyerah? Oh tidak. Saya tidak menyerah untuk mencari teman yang mau bersedia menjadi fasilitator bersama saya.

Akhirnya terjawab tidak lama dari semua penolakan yang saya terima. Saya mendapatkan empat fasilitator yang bersedia secara sukarela menjadi peace educator dan  menjalankan misi bersama saya yakni menyebarkan virus perdamaian.

Kolaborasi dan Berpikir Kritis adalah Kunci

Masalah satu telah terselesaikan. Saya kemudian memutar otak untuk menyelesaikan kelemahan saya yang tidak dapat berkomunikasi dengan teman-teman tuli. Satu-satunya cara yakni saya harus bisa berbahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi dengan mereka.

Keesokan harinya saya menghubungi teman-teman komunitas “KATADIA” untuk membantu saya dalam mempelajari bahasa isyarat. Selama dua minggu waktu yang saya gunakan untuk belajar. Ternyata tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa.

Komitmen dan tekad saya menjadi seorang peace educator sangat penuh. Apalagi dalam menebar virus-virus perdamaian kepada seluruh teman-teman difabel dan non-difabel tanpa terkecuali. Saya merasa bahwa keterbatasan tidak harus menjadikan mereka tidak mengenal arti perdamaian.

Berbagai tembok diskriminasi perlu saya runtuhkan. Saya melakukan simulasi dengan teman-teman komunitas KATADIA untuk memastikan tidak ada kesalahan kata maupun kalimat yang saya lontarkan.

Bersama empat fasilitator, saya melanjutkan program peace saya. Kami berangkat ke tempat misi perdamaian. Ketika akan memulai kegiatan, saya menyadari satu hal, board game saya hanya satu. Jika bermain bergiliran waktunya tidak akan cukup dan tidak efektif. Yap, saya mendapatkan kesulitan yang lain.

Kepala saya waktu itu serasa akan meledak, namun saya kembali rileks dan mencoba untuk menenangkan diri. Saya jalankan program tersebut apa adanya, baru nantilah memikirkan jalan keluar untuk masalah yang baru tersebut.

Mission of ten board games. Saya mendapat ide untuk mendapatkan board game sebanyak-banyaknya. Caranya dengan mengontak beberapa Agent of Peace (AoP) yang pada saat itu mengikuti kegiatan BGFP.

Tujuannya untuk meminjam board game milik mereka tiap akhir pekan, Namun nihil, mereka tidak bisa meminjamkannya karena mereka juga menggunakannya. Saya hanya mendapat dua board game dari teman-teman yang bersedia meinjamkan.

Meski begitu, saya bersyukur. Setidaknya saya memiliki lebih dari satu board game yang akan saya bawa kepada teman-teman nanti. Selama beberapa minggu kemudian, saya tetap berusaha mencari board game. Kemudian terlintas dalam benak saya untuk meminjam dari kantor PeaceGen Makassar.

Saat itu saya cukup merasa malu, karena jumlah yang ingin saya pinjam bukan jumlah yang sedikit. Saya kemudian memutar otak dan mendapatkan ide untuk memulai pendekatan. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan PeaceGen Makassar saya ikuti.

Siapa tahu, kalau saya minta lebih dari lima langsung dikasih, pikir saya saat itu. Saya mengikuti seluruh kegiatan PeaceGen Makassar dan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat berkontribusi dengan baik. Membantu dengan profesional dan bertanggungjawab dengan tugas yang diberikan.

Allah SWT maha mendengar yah teman-teman. Hanya setelah beberapa kegiatan yang saya ikuti, kemudian @peacegenid mengunggah postingan Beasiswa Board Game. Yang sangat menggiurkan adalah penerima beasiswa akan diberikan board game secara cuma-cuma.

Kita hanya wajib melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan yang berkaitan dengan PeaceGen setiap hari atau setiap minggu. Tidak menunggu lama lagi, semenit saat postingan tersebut ada didepan mata saya, saya langsung mendaftar dan mengetikkan nominal sepuluh board game yang saya butuhkan.

Sempat pesimis akan ditolak, namun saya kemudian meluruskan niat saya lagi. Saya berharap besar terhadap kesempatan emas tersebut. Beberapa hari kemudian saya dikejutkan dengan pengumuman beasiswanya. Sebelum menggeser gambar, saya membaca seluruh doa yang saya hapal saat itu.

Dan bismillah, bola mata saya berjalan perlahan ditulisan Makassar, lalu turun terpaku pada satu nama Masyitha Nur Ramadhani. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Entah mau nangis atau teriak, yang pastinya saya merasa sangat senang saat itu.

Salah satu admin yakni Mbak Linda mengirimi saya pesan dan memberitahu kewajiban saya sebagai penerima beasiswa tersebut. Tangan saya gemetar tak mempercayai semua itu. Saya tidak sabar untuk segera memegang sepuluh board game sekaligus.

“Teman-teman I am coming!” kataku dalam hati. Sesaat setelah kegiatan Training For Trainers yang saya ikuti, Kak Cida salah satu AoP yang bekerja di kantor PeaceGen Makassar menginstruksikan saya untuk mengambil sepuluh board game tersebut ke kantor.

Mengimplementasikan 12 Nilai Dasar Perdamaian

Setelah mendapat beasiswa, saya bersama fasilitator yang sekaligus menjadi peace educator bisa bermain dengan begitu banyak siswa-siswi. Selama sebulan kami konsisten dalam mengerjakan damai melalui board game.

Kemudian kami mengumpulkan orang tua murid untuk menjelaskan tujuan kami melakukan kegiatan bermain board game for peace. Tak lupa  saya juga memperkenalkan 12 Nilai Dasar Perdamaian secara singkat.

Begitu banyak pertanyaan serta antusiasme orang tua murid terhadap board game yang saya bawa. Murid-murid di sekolah jug mulai bermain bersama tanpa melihat perbedaan antara satu dengan yang lain.

Teman-teman saya yang awalnya menolak untuk berkolaborasi, perlahan ingin ikut serta bersama kami menjadi fasilitator. Berbekal ilmu 12 Nilai Dasar Perdamaian serta mengikuti begitu banyak rangkaian kegiatan PeaceGen mengajarkan saya banyak hal.

Saya menjadi punya banyak pengetahuan baru untuk dapat dibagi dengan teman-teman yang lain. Saya merasa bersyukur dengan seluruh rangkaian cerita yang Allah SWT buatkan kepada saya. Sehingga saya bisa menjadi peace educator dan bertemu dengan teman-teman PeaceGen.

Saya berkegiatan bersama, mengenal arti saling menghargai, menerima, memaafkan, berkolaborasi, kerjasama tim, dan bersosialisasi dengan baik. Membawa 12 Nilai Dasar Perdamaian membuat pribadi saya perlahan-lahan menghancurkan benteng ‘apatis’ saya.

Perlahan-lahan menghancurkan pertahanan saya dan membangun rasa toleransi yang menurut saya sangat membantu untuk kesehatan mental serta hubungan saya dengan orang lain.

Kini, saya lebih mencintai diri saya yang seperti sekarang ini. Saya lebih bersemangat dalam berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan sosial. Dengan bangga dan semangat saya mengenalkan board game for peace dan menyebarkan virus-virus perdamaian.

Saya juga menjadi berani turun langsung untuk melakukan healing kepada korban bencana di Lombok dan Palu. Kami bermain bersama dan menanamkan nilai perdamaian disela-sela permainan.

Saat itu, layaknya film saya kemudian mengingat kembali seluruh perjuangan saya untuk melawan diri saya sendiri, kemudian menerima diri saya yang dulu, saya tersenyum dan mengatakan, “Saya bersyukur untuk semua kesalahan dan kegagalan yang pernah saya lakukan, maafkan saya yang dulu ya, dan terimakasih untuk terus bertumbuh ya. Diri saya dimasa lalu”.

Tersenyum, tertawa sedikit diselimuti debu kering bekas, saya kemudian kembali bergabung dan menyelesaikan misi perdamaian saya sebagai peace educator.

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!