Sofina Fachlan: Waktu Hening dan Berjarak

Menurutku, semua orang membutuhkan waktu hening dalam hidupnya beberapa kali. Kini, aku sedang menikmati waktu heningku tanpa ponsel, notifikasi yang menderu, dan menarik diri dari kehidupan sosial yang fana.

Di tengah hujan badai yang bergemuruh, aku duduk menikmati suara hujan dengan lantunan piano klasik sembari membaca buku. Tak lupa, aku juga menyalakan lilin kecil yang harumnya mengisi seluruh kamarku. Inilah masa-masa paling menenangkan.

Aku sempat memikirkan sesuatu saat lilinku yang kecil menawarkan sinarnya yang hangat dan menenangkan. Betapa asyik menjadi sebuah lilin aromaterapi. Ia mampu menerangi seisi ruangan yang gelap dimakan hujan badai. Kehadirannya pun begitu menenangkan jiwa dengan harumnya. Aku tahu bagaimana sekarang lilin aromaterapi digemari banyak orang karena begitu banyak manfaatnya dan menenangkan.

Kemudian, sudah sekian lama aku baru dapat meluangkan waktu untuk sekadar duduk dan membaca buku. Riuhnya duniaku sebelumnya tidak memberiku satu detik pun untuk bernafas. Dengan berjarak dan menepi sejenak, aku jadi belajar memahami makna “waktu hening” ku sendiri.

Simak Cerita Perubahan dari Olivia dan perjalanannya memantapkan identitas diri di sini!

Buku yang aku baca ini begitu menarik perhatianku. Sub-judulnya “Hari ini adalah hari yang diinginkan semua orang”. Sesi ini banyak menceritakan mengenai makna dari kebahagiaan itu sendiri. Bagiku, makna kebahagiaan itu relatif dan juga ditentukan oleh kondisi. Banyak sekali kebahagiaanku yang mudah sekali direnggut oleh kecemasan dan penderitaan lainnya. Pada akhirnya aku menemukan buku ini dan ia mulai bercerita padaku.

Ku kutip dari salah satu paragraf di buku ini,

“Matsushita Konosuke berkata ‘Perbedaan antara istana dan penjara tergantung dari apakah kamu bersyukur atau berkeluh kesah’ “

Darinya aku kembali berkaca pada diriku sendiri. Pandemi yang sedang terjadi diluar sana mengharuskan semua orang untuk tetap diam dirumah. Sekolah, universitas, pusat perbelanjaan, dan seisi kota kini ditutup. Minggu pertama bagi sebagian orang dengan mengisolasi diri dirumah begitu menyiksa. Bagiku yang terbiasa dengan dunia yang riuh, berlari dan bermobilitas begitu cepat, juga menggulirkan waktu dengan banyak kesibukan. 

Pekerjaan seperti ini sangatlah menyiksa. Berada di rumah seperti dalam penjara. Aku sejenak berpikir, bagaimana bisa manusia akan tahan mengurung dirinya dalam penjara. Seiring hari berjalan dan terus habis, aku dirundung oleh kecemasan dan kemarahan. Begitu aku menghabiskan hari-hariku.

Pada minggu kedua, aku mencoba untuk berjalan mengitari rumahku dan pekarangannya. Saat memperhatikan beberapa sudut taman, ruangan, dan juga benda-benda, aku terkejut karena baru menyadari keberadaannya. “Sejak kapan benda ini ada di sini?” “Bagaimana sudut ini sekarang terasa lebih berseni?” dan pertanyaan lainnya layaknya seseorang yang baru tinggal di sebuah rumah. 

Lalu, kutipan selanjutnya dari buku ini :

“Jalan menuju kebahagiaan adalah melalui sebuah apresiasi. Aku berharap kamu ingat apa yang kukatakan jika kamu merasa tenggelam dalam penderitaan: Rutinitasmu hari ini yang begitu kamu benci, sebenarnya adalah sesuatu yang paling ingin dilakukan semua orang”.

Kutipan tersebut menyadarkanku. Belum tentu bagi orang lain dapat menikmati waktu di rumahnya, sementara harus terus berjuang di luar sana untuk berpikir untuk menghidupi hari ini. Masih banyak orang yang harus merasa khawatir tentang bagaimana cara mereka hidup dalam situsi yang memprihatinkan ini. Sementara aku, mengeluh dan memperburuk suasana hariku selama ini. Sebagaimana harusnya aku begitu mensyukuri.

Selama ini juga, aku terlalu sibuk dengan mengejar dunia. Seolah-olah bumi ini berputar padaku, sebagai porosnya. Selama ini aku selalu meninggalkan dan melupakan satu hal yang selalu tinggal, yaitu rumah. Ku maknai satu-satu dan sudut pandangku kini berubah. 

Ku sadari ketika berdiam diri di rumah. Sementara aku terus mendewasa, aku lupa bahwa kedua orang tuaku pun terus menua. Waktu yang kuhabiskan sangatlah terbatas sebelumnya. Hanya dengan berdiam dirumah, keluargaku jauh lebih bermakna bagiku. Menghabiskan waktu bersama mereka, melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kulakukan. Semua ini membuat diriku jauh lebih damai.

Duniaku yang kini berjalan begitu lambat ternyata memberiku ruang untuk berpikir tentang sebuah makna. Menikmati waktu hening dan berjarak membuat diriku menjadi memahami arti.

Oleh: Sofina Fachlan, MENTOR FROSH UPI

Editor: Faza Rahim

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

Peace People, untuk mendapatkan informasi terkini seputar Peace Generation, jangan lupa klik di sini!