Uli Rahma Eperissza: BGFP 2.0 mengubah hidupku

Mari kita mulai cerita ini dengan perkenalan, nama saya Uli Rahma Eperissza, kerap dipanggil Ulik. Saya seorang kakak perempuan dari dua orang adik, selain itu juga saya adalah cucu dan cicit pertama. Jika ditanya bagaimana rasanya? Jawabannya adalah lima puluh persen menyenangkan dan sisanya adalah beban. Menyenangkan sekali tentunya menjadi seseorang yang dinanti-nanti kehadirannya dan ketika sudah lahir dihujani oleh kebahagiaan. Banyak perhatian yang dicurahkan, bahkan seringkali saya dimanja oleh kakek dan nenek. Lalu apa yang dimaksud dengan beban? Selain kasih sayang ada banyak harapan yang mereka tumpukan pada saya. Menjadi contoh yang baik, menjadi anak yang dapat diandalkan, menjadi hal-hal positif lainnya. Menurutku ini benar-benar sebuah beban karena di sudut lain bahkan saya tidak memiliki contoh tetapi saya harus menjadi sebuah contoh. Tidak memiliki tempat bertanya dan berbagi sedangkan saya harus menjawab pertanyaan adik-adik. Tidak memiliki seorang kakak yang bisa menjadi pelindung dan berbagi keluh kesah, tetapi sebaliknya harus melindungi.  Loh, kan bisa berbagi cerita sama ibu bapak? Mereka juga melindungimu bukan?

Kala itu saya tinggal bersama kakek dan nenek sejak berumur 3,5 tahun sampai kurang lebih 6 tahun, lalu balik tinggal bersama orang tua. Pindah tempat tinggal dan pindah sekolah, dari kota ke desa, kelas dua SD semester dua. Wah, ada banyak sekali hal yang berubah. Dari lingkungan keluarga, teman, serta pendidikan. Bertahun-tahun sudah berlalu, tetapi ada bagian cerita yang masih saya ingat betul. Karena kala itu saya menjadi siswa baru, ada beberapa teman cowok yang kerapkali menjahili, dan beberapa kali juga saya tidak tahan lalu menangis sampai ngadu ke bapak, besoknya bapak mendatangi siapa saja yang membuat anak perempuannya menangis. Tapi sayangnya masalah tidak selesai, saya malah makin dijahili dan diganggu dengan sebutan baru “Si tukang ngadu”. Malu sekali rasanya, bukannya mendapat banyak teman baru tetapi malah dirundung, pada akhirnya saya memutuskan untuk menelan sendiri rasa marah, sedih dan takut. Oh iya, Bapak seorang PNS di UPTD-BIB, kurang lebih mengurusi perihal bibit sapi, atau calon dan bekal janin yang tentu saja akan selalu berurusan dengan sapi. Di sekolah sebelumnya tidak ada yang tahu perihal pekerjaan bapak, karena saya tinggal dengan nenek yang saat itu menjadi salah satu guru di sekolah yang saya tempati, jadi dikenalnya sebagai cucu seorang guru. Berbeda dengan sekolah yang baru, saya seringkali mendapat olokan “anak kang suntik sapi” “bapaknya tukang ngerogoh sapi” dulu saya belum mengerti betul, hingga muncul pertanyaan “Memangnya kenapa? Apa pekerjaan bapak salah?”. Seiring waktu saya tidak peduli lagi, dan untungnya saya tidak merasa malu akan pekerjaan bapak, sebaliknya saya malah bangga dengan apa yang ia kerjakan. Tidak ada hal negatif yang berkepanjangan, tetapi saya tetap mendapat julukan seperti itu dengan dalih bercanda.

Lanjut ke SMP, ternyata lebih banyak lagi hal yang saya temui tentang gaya bercanda yang lumrah serta tidak ada lucu-lucunya. Bukan saya, tetapi teman sekelas yang saat itu mendapat julukan “Si busung lapar” katanya karena ia terlalu kurus, lalu jokes itu menjadi bahan bercandaan yang diterima dengan tawa. Ada banyak sekali seorang teman yang mendapat perlakuan seperti ini, “Si jongos” karena ia terlahir dengan bentuk gigi yang berbeda, “Rambo” karena ia memiliki rambut seperti Rambo, dan masih banyak lagi. Tidak berhenti disini, saya masih menemui hal seperti ini di SMA dan bangku kuliah. Sedihnya, saya juga kerapkali menggunakan panggilan yang tidak seharusnya untuk mengolok-olok teman dengan dalih bercanda.

Uli (kedua dari kanan, jilbab putih) dengan peserta BGFP 2.0 yang lain

Tahun 2018, saat itu saya sedang berada di semester lima, sedang ada di fase semangat dan sangat antusias mengikuti banyak kegiatan. Melalui whatsapp seorang kakak yang saya temui di salah satu internship menghubungi saya untuk membantunya membagikan kegiatan BGFP (board game for peace) 2.0 di Palembang. Iseng mendaftar ternyata saya lulus seleksi pertama dan dihubungi untuk wawancara. Senang sekali mendapat sebuah email dengan bertuliskan bahwa saya diterima dan bisa mengikuti training BGFP 2.0 di hotel Malaka bersama banyak kenalan yang berbeda universitas dan latar belakang.

Peserta BGFP membahas hoax

Kita diajarkan perihal 12 nilai perdamaian melalui sebuah permainan, menurut saya lebih daripada itu kita semua diedukasi perihal banhyaknya tindak kejahatan yang ada, termasuk perihal bully. Mengetahui fakta tersebut saya cukup kaget karena ternyata pernah di posisi menjadi korban, pengamat dan pelaku. Bully ini dekat sekali dengan kehidupan kita, banyak sekali terjadi di sekitar kita, termasuk semua hal yang saya ceritakan di awal. Dari program BGFP 2.0 dua tahun lalu saya menjadi paham betul definisi bully, bagaimana macam dan bentuknya dan apa yang harus kita lakukan jika melihat atau sedang berada di posisi itu. Bully bisa saja membawa pengaruh negatif kepada si korban, hilangnya kepercayaan diri, membuat seseorang rendah diri, bahkan ingin mengakhiri hidupnya. Dampak bully bisa bertahun tahun lamanya dirasakan oleh korban dalam bentuk trauma. Jika di posisi saya yang tidak tahu bahwa itu adalah tindakan bully kita akan secara tidak langsung menjadi penerus budaya yang amat menyedihkan ini. BGFP 2.0 menyadarkan saya bahwa isu bully ini penting sekali kita suarakan, paling tidak untuk menyadari pada diri sendiri dan mulai memberhentikan segala macam tindakan. Penting sekali untuk kita sadari dan perhatikan karena pelaku dan korban sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, bisa saja keluarga kita sendiri.

Melaului BGFP 2.0 juga saya disadarkan bahwa kita semua bisa menjadi agen perubahan, dimulai dari diri sendiri, saya ucapkan banyak terima kasih kepada Kak Aldina selaku Koordinator BGFP 2.0 Palembang yang sudah memperkenalkan program ini pada saya, dan kepada Peace Generation dan semua orang dibelakangya yang sudah mengadakan program keren ini, BGFP 2.0. Saya yakin ada banyak sekali cerita perubahan dari peserta BGFP 2.0, dampak dari program Peace Gen. Dari sini, saya terus terpanggil untuk mengajarkan kesadaran tentang bahaya bully lewat Club Peace Generation Palembang. Semoga kebaikan ini terus tersebar!

Oleh: Uli Rahma Eperissza (Tim Club Palembang)

Editor: Hayati