Bully Berhenti , Kita Makin Happy!

Pada hari Senin – Rabu (13-15/7), Peace Generation Solo mengajarkan Happy Tanpa Bully kepada 60 santri baru SMP Ahmad Dahlan Boarding School, Sukoharjo. Training ini dilakukan sebagai salah satu rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Meski dalam suasana pandemi, training daring ini tetap berjalan dengan penuh antusiasme dari peserta.

Peace Generation Solo menugaskan enam fasilitator mereka untuk menjadi pelatih dalam pelatihan berikut. Training yang menggunakan media WhatsApp ini bertujuan untuk memberi edukasi kepada remaja tentang bahaya bullying, sekaligus sebagai upaya mitigasi bencana sosial. “Agar peserta sedini mungkin bisa menjadi influencer perdamaian dan mencegah bullying di masyarakat,” ujar Ninin, Ketua Peace Generation Solo.

Baca Juga  Mempertahankan Hubungan di Tengah Pandemi

Setiap hari, peserta training harus menyelesaikan tugas yang ada. Diantaranya, mereka membuat poster atau video kampanye melawan bullying. Karya terbaik siswa nantinya akan diunggah ke akun Instagram Peace Generation Solo.

Pada hari pertama, para santri baru belajar dari rumah masing-masing tentang apa itu bully, salah paham terhadap bully, mengapa bully terjadi, aktor bully, dan mengapa bully berbahaya. Pada hari kedua mereka belajar tentang bagaimana cara korban menghadapi bully, tips untuk orang tua, tips untuk guru, menguatkan kekuatan diri, dan bangkit untuk menghentikan bully.

Perundungan sering terjadi karena berbagai latar belakang. Ada yang memang pernah menjadi korban di masa lampau, ada pula yang memang berasal dari kemarahan-kemarahan yang bersumber dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.

Baca Juga  AoP Online Course #3

Sedangkan pada hari ketiga para peserta diminta untuk berbagi cerita tentang kejadian yang pernah mereka alami. Antusias peserta untuk bercerita cukup tinggi. Setelah bercerita, mereka saling berdiskusi tentang bagaimana cara yang baik dalam menghadapi kasus-kasus tersebut.

“Terimakasih kepada fasilitator, materinya sangat bermanfaat,” ujar Rifa Nuraini Widyawati, salah satu peserta training. Menurut Aini, salah satu fasilitator, training yang dijalankan cukup berhasil. “Aku terkesan dengan mereka yang sangat interaktif dan semangat ikut kegiatan. Mereka sangat responsif,” jelasnya.

Baca Juga  “Game Based Learning for Peace” Buat Kelas Jadi Tempat Bermain

Peace People, untuk akses informasi terkini seputar Peace Generation, jangan lupa klik di sini!

[Penulis, Yusuf Yanuari, AoP Solo]

Editor: Faza Rahim