Menyalakan Api Kemanusiaan dan Kesetaraan

Bagaimana menghidupkan api kemanusiaan dalam diri dan memastikan kita berpikir dan bertindak setara terutama dalam kondisi kritis seperti ini?

Dipersembahkan secara bangga, Peace Academy kembali mengadakan online learning dengan sebuah tema dan narasumber yang sangat istimewa. Diadakannya online learning ini tentu saja konsisten dengan tujuan-tujuan e-learning sebelumnya, yakni untuk menginspirasi dan menghidupkan kembali kepedulian terhadap martabat manusia secara setara. 

Bersama Inaya Wahid, seorang aktivis, komedian, aktris , host acara TV, koordinator GusDurian Jakarta dan masih banyak lagi peran yang ia mainkan, Peace Academy  mengajak peserta untuk berdiskusi tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan terutama dalam kondisi kritis seperti ini. Mari kita tengok poin apa saja yang tertuang dalam agenda Online Learning dari Peace Academy pada tanggal 16 Mei 2020 dan serta dimoderatori oleh Lindawati Sumpena (Peace Generation).

__

Linda sebagai moderator mengawali dengan sebuah pernyataan bahwa “Kita sudah mengalami pandemi selama 2 bulan lebih dan pandemi ini terjadi pada siapa saja tanpa mengenal SARA. Ini juga jadi semacam stabilisasi. Tapi sayangnya,ternyata di pandemi ini muncul diskriminasi jenis baru. Banyak dari media yang memberitakan bahwa ada banyak orang yang melaporkan adanya peningkatan sentimen khususnya ke temen-temen etnis chines. Kalau di indonesia sendiri, saya melihat korban dari diskriminasi adalah tenaga medis. Sampai ada yang diusir, jenazahnya ditolak, dan sebagainya. Dan baru-baru ini ada temen transpuan yang kena prank oleh salah satu youtuber. Nah, saya penasaran, ada apa dibalik situasi sekarang? Kenapa orang itu sangat mengedepankan rasa aman?”

Pernyataan itu dijawab oleh Inaya Wahid dengan sangat lugas namun padat, “Kali ini saya akan membicarakan tentang kemanusiaan sebagai bagian dari new normal. Saya mau ceritakan apa yang saya alami selama pandemi ini. Kalau buat saya, itu bukan diskriminasi jenis baru. Itu sudah ada jauh sebelum masa pandemi. Menurut saya, bagi sebagian besar orang ini adalah permasalah yang baru. Mungkin itu benar. Tapi bagi saya, pandemi ini bukan hanya memberikan problem baru, tapi juga memunculkan problem-problem yang sudah ada dari dulu. Termasuk diskriminasi tadi. Jadi diskriminasi ini bukan sesuatu yang baru.”

Selain itu, virus ini juga memunculkan hal-hal yang mungkin saja tidak kita sadari, bahwa itu memang sudah terjadi. Seperti halnya orang-orang yang dari dulu berjuang untuk memenuhi kehidupannya, sekarang menjadi semakin sulit dengan situasi pandemi ini. 

Ada salah satu selebriti yang memberikan pernyataan bahwa “Sebenarnya kita ini virusnya lho. Corona ini ada untuk membersihkan bumi kita”. Mungkin ini benar. Tapi ada komentar dari salah satu jurnalis yang mengatakan bahwa “Mungkin pernyataan itu berlaku untuk kelas menengah ke atas. Tapi tidak berlaku bagi kelas menengah ke bawah. Dimana kelas menengah ke bawah dari dulu sudah susah, lalu dengan adanya pandemi ini hidupnya semakin susah daripada kelompok menengah ke atas.” 

Selain itu, pandemi ini juga memperlihatkan sistem yang kita miliki ini kurang baik. Seperti sistem penanganan kelas, sistem kesehatan dan termasuk sistem politik kita. Secara politis, mereka juga masih terpecah di masa pandemi ini. Termasuk salah satunya problem-problem kemanusiaan. 

Jika saat ini kita merasa takut, kebingungan, stres bahkan depresi, sebenarnya itu wajar. Karena itu semua dirasakan oleh manusia di seluruh dunia. Namun kemudian, kita harus berpikir kira-kira hal apa yang bisa kita lakukan di tengah pandemi ini. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah mengucapkan rasa syukur. Bersyukur bahwa sampai saat ini kita masih bisa hidup, bekerja, berdiam diri di rumah yang mungkin hal itu tidak dirasakan oleh orang lain. 

Daripada kita hanya memikirkan sesuatu yang diluar batas kemampuan kita, kita bisa memulai dengan fokus ke hal kecil yang lebih penting. Seperti :

  1. Tidak apa-apa untuk memiliki rasa takut, tapi itu bisa dijadikan sebagai titik balik.   
  2. Kita butuh new normal. Karena ada habit dan penyadaran baru. Termasuk dalam hal kemanusiaan.
  3. Saling jaga dan saling peduli itu tidak perlu hal yang besar. Tapi bisa dilakukan dengan hal kecil, yaitu angkat telpon atau bertanya kabar teman kita yang jauh disana.

Sebagai penutup, Inaya menyampaikan pesan bahwa “Sesulit apapun situasi kita saat ini, kita masih punya harapan untuk kemanusiaan sebagai bagian dari ‘the new normal’.”

 Oleh : Tim Peace Academy

Baca Juga  PeaceGen Chapter Sulteng berkolaborasi dengan Sikola Mombine

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!