Menyambut Ramadan ala Peacemaker

Datangnya Bulan Suci Ramadan membawa kebahagiaan yang sangat berarti bagi umat Islam di seluruh dunia. Berbagai hal pun sudah dipersiapkan untuk menyambut bulan Ramadan. Mulai dari persiapan makanan, melatih diri untuk berpuasa, bersih-bersih rumah atau bahkan ada yang cari gebetan. Minimal biar sahur nanti ada yang membangunkan. Hehe. Nah, mungkin beberapa hal itu yang dilakukan oleh sebagian orang pada umumnya. Lalu, bagaimana seorang peacemaker dalam menyambut Ramadan?

Hal itu terungkap dalam sebuah online learning yang diselenggarakan oleh Peace Academy berkolaborasi dengan YIPC Indonesia, yang bertemakan “Menyambut Ramadan ala Peacemaker”. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 27 April 2020 dan dihadiri oleh Agent of Peace yang sudah lama berkiprah di dunia perdamaian, yaitu Irfan Nurhakim (Peace Generation) dan Rezha A. Fauzan (YIPC Indonesia). Serta dimoderatori oleh Anisa.

Tak seperti tahun sebelumnya, Ramadan kali ini terasa berbeda. Kita dihadapkan dengan situasi pandemi yang mengharuskan kita untuk #dirumahaja sambil menjalankan ibadah puasa. Seperti yang dikatakan oleh Irfan Nurhakim bahwa “Kondisi pandemic ini membuat kita biasanya menyambut Ramadan dengan ala-ala, sekarang jadi ala kadarnya. Dan tantangan terberat di Ramadan kali ini adalah bagaimana kita tetap disiplin dengan diri sendiri, di tengah suasana yang enak sekali untuk rebahan.”

Di Peace Generation, biasanya menyambut Ramadan dengan mengadakan Peacesantren atau pesantren damai. Bukan hanya mengajarkan agama, tapi juga disisipkan nilai-nilai perdamaian. Salah satu yang dipelajari dari Peacesantren dan bisa kita jadikan hikmah adalah bagaimana dengan puasa kita tetap bisa ikram atau respect. Diantaranya respect ke alam dan makanan.

Respect terhadap alam contohnya dengan diam di rumah, tidak berkendara yang mengakibatkan polusi. Sehingga kualitas udara jadi lebih baik dan air juga lebih bersih. Kita yang terlalu sibuk hiruk pikuk dengan dunia, akhirnya punya kesempatan untuk memperhatikan alam sekitar.

Selain itu, kita juga harus respect terhadap makanan. Bagi sebagian orang yang saat ini penghasilannya turun, makanan itu menjadi barang mewah. Hal ini menyadarkan kita untuk menghargai makanan yang kita punya. Jangan disia-siakan dan kita juga tidak perlu pamer makanan berbuka dan sahur. Karena banyak orang-orang di luar sana yang kesulitan mendapatkan makanan.

Guys, puasa juga memberikan kita kesempatan belajar disiplin dan pandai mengatur strategi. Bagaimana caranya kita berpuasa tapi tetap bisa bekerja. Kita juga belajar untuk menunda kesenangan dan berempati. Yang paling penting adalah bagaimana puasa di tengah situasi pandemi ini kita sebagai peacemaker tetap bisa melakukan “pergerakan”. Membuat konten-konten menarik untuk share di sosial media atau bisa belajar masak dan dibagikan ke tetangga kosan. Kalau Irfan dan teman-temannya membuat hashtag di sosial media, namanya #tenangdirumah. Lewat #tenangdirumah ini, kita berusaha memberikan hal-hal yang bermanfaat, hiburan supaya kita tidak semakin panik dan bisa ikut gerakan sosial, berbagi dengan masyarakat.

 Berbeda dengan Irfan, Rezha menyampaikan cara ia menyambut Ramadan bersama teman komunitasnya dari sisi Interfaith Peacemaker. Rezha lahir dari lingkungan homogen. Cara ia menyambut Ramadan pun sama seperti teman-teman muslim pada umumnya. Namun, 7 tahun terakhir ketika ia bergabung dengan YIPC dan bertemu dengan teman-teman aktivis dari lintas agama, ia memaknai Ramadan dan puasa dengan lebih utuh.

Salah satu pengalaman penting adalah ketika Peace Camp beberapa tahun lalu. Peace Camp saat itu salah satu yang berbeda karena dilakukan di Bulan Ramadan. Pesertanya tidak hanya muslim, ada juga yang Katolik dan Kristen. Yang menarik adalah mereka juga ikut berpuasa dan sahur. Padahal mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Bahkan, ketika di hari terakhir mereka melakukan harmony in action di Masjid Agung Bandung dan teman-teman non-muslim ikut turun ke mesjid bahkan yang perempuan ikut mengenakan hijab untuk menghormati muslimah yang lain. Momen Ramadan ini adalah saat dimana ia merasakan langsung apa itu perdamaian, bukan hanya belajar tentang teori perdamaian.

Meski di situasi pandemi ini kita tidak bisa bertemu secara langsung dan merasakan Ramadan bersama teman-teman, kita masih bisa memanfaatkan komunikasi secara online dengan tidak mengurangi vibes-nya. Satu hal lagi, meskipun saat ini kita dihimbau untuk tidak beribadah di masjid, hal itu bukan alasan Ramadan kali ini tidak lebih baik dari Ramadan sebelumnya. Karena Tuhan tidak hanya di masjid. Dimanapun kita berada, kita tetap bisa berdoa dan beribadah kepada Tuhan.

Dengan menjalankan ibadah puasa di masa pandemi ini, semoga kita tidak hanya sibuk dengan melakukan tradisi tapi juga menghadirkan esensi. Apapun kondisinya dan dimanapun kita berada, kita selalu bisa beribadah dengan baik dan tetap bisa menyebarkan kedamaian. Mulai dari sesuatu yang kita bisa dan kita sukai. Karena setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, selalu ada hikmah di dalamnya.

Oleh Tim Peace Academy [Anisa & Mahendra]

 

Baca Juga  Pertemuan Tim Kelurahan dan Pembahasan Kasus Ekstremisme Kekerasan

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!