Merawat Damai Lewat Kontrol Diri: Belajar dari Peristiwa Sigi

Peristiwa pembunuhan nan keji yang diduga dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pada hari jumat, 27 November 2020 nggak hanya memakan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan fasilitas, tetapi juga gangguan psikologis dari masyarakat disekitar lokasi kejadian dan Sulawesi Tengah secara umum. Hal itu termanifestasikan dalam perasaan sedih, marah, dan takut yang dirasakan masyarakat. Kondisi ini, yang seringkali lebih berdampak dalam waktu yang panjang, juga dipanasi terus menerus lewat berita hoax yang disebar oleh orang-orang tak bertanggungjawab di media sosial.

“Sempat di grup keluarga, saudara-saudara saya yang beragama Kristen jadi kalut karena dengar kalau gereja dibakar. Mereka pikir, wah ini gawat sudah konflik agama. Padahal, tidak ada gereja dibakar. Bahkan bukan rumah warga juga. Yang dibakar itu rumah pelayanan umat”. Hijrah Laema, AoP dan Koordinator Program Breaking Down the Wall dari PeaceGen Sulawesi Tengah menyampaikan pengalamannya.

 

Baca Juga  Agent of Peace Outreach: Perjalanan ke Sumedang

Hijrah hadir menjadi narasumber pada kegiatan rutin AoP Gathering PeaceGen pada tanggal 15 Desember 2020 lalu. Dia tidak sendiri, hadir juga Christopher Wauran, guru dan Peace Educator dari Palu. Mereka berdua berbagi pada 23 orang AoP PeaceGen. Cristo turut menambahkan bagaimana kabar palsu soal kehadiran Ali Kalora, pemimpin MIT yang sedang potong rambut di Kota Palu tersebar dan meresahkan warga. Belakangan, kabar itu dibantah oleh pihak kepolisian.

Seringkali orang-orang mudah terpengaruhi berita yang belum tentu kebenarannya karena tidak mau atau tidak tahu cara mengonfirmasi informasi yang diperoleh. Dibutuhkan sikap kritis dan rendah hati untuk mencari informasi pembanding dan melihat peristiwa secara keseluruhan. Sekilas, ketika kita melihat bahwa korban kelompok terror MIT adalah umat Nasrani, mudah sekali rasanya jika ingin mengambil kesimpulan sepihak seolah-olah aksi dilatarbelakangi kebencian terhadap orang Kristen. Padahal, jika melihat rekam jejak kelompok tersebut, mereka melakukan aksi pada korban dengan latar belakang agama yang berbeda-beda, Islam, Hindu, maupun Kristen.

“Buat saya, merawat damai itu hanya mungkin kalau kita mulai dari diri sendiri. Kita bisa kontrol diri kita. Bisa aja kan, kalau saya pakai kebencian dan gamau cari fakta, saya setuju kalau ada pendapat yang bilang Kenapa korbannya Nasrani? Kenapa dilakukan menjelang Natal? Pasti ini ada serangan dari agama tertentu buat orang Nasrani. Lalu saya bertindak hal yang tidak seharusnya.” Ujar Cristo

Menurut Hijrah dan Cristo, kelompok MIT adalah kelompok yang bermaksud memecah belah bangsa Indonesia. Kelompok ini keberadaannya perlu diwaspadai sekaligus dilawan. Kerjasama antar pihak diperlukan, baik dari pemerintah dan masyarakat sipil. Selepas peristiwa itu, mereka berdua bertemu dengan staf khusus presiden, Ayu Kartika Dewi untuk sama-sama mendalami apa yang sesungguhnya terjadi. Respon yang dilakukan pemerintah mereka rasa sudah cukup baik dengan adanya bantuan sosial dan penjagaan dari aparat kepolisian dan TNI. Hal yang perlu ditambahkan adalah pendampingan psikososial untuk penanganan trauma anak-anak. Syukurlah, menurut Cristo yang berasal dari Kabupaten Sigi, masyarakat sekitar lokasi kejadian sudah mulai beraktivitas biasa dan tetap mempersiapkan kegiatan Natal. Hal ini dapat membantu menumbuhkan atmosfer positif di masyarakat.

Hal yang tak kalah pentingnya dan dapat dilakukan oleh tiap orang untuk membantu menyalakan harapan dan merawat toleransi adalah dengan tidak bersikap reaktif. Lakukan kontrol diri dengan bijak menerima informasi. Lakukan konfirmasi pada orang atau pihak yang terpercaya sebelum merespon. Dengan begitu, pesan teror untuk menakut-nakuti dari kelompok-kelompok tak bertanggungjawab akan kehilangan taringnya.  

 

Baca Juga  Newsletter Edisi #3 - Mei 2020

Ditulis oleh: Lindawati Sumpena

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!