PeaceSantren 2020 pecahhh!!!

Kondisi pandemi tahun ini tidak mengurangi antusiasme para Agent of Peace di daerah untuk melakukan program tahunan Peace Generation, yaitu PeaceSantren. PeaceSantren 2020 (1-18 Mei) berjalan dengan sangat sukses dan berhasil, diikuti oleh 488 pelajar dan mahasiswa, yang dibawakan oleh 51 AoP Educator (pengajar) di 14 kota Indonesia, antara lain: Riau, Padang, Bangka, Banten, Sumedang, Purwokerto, Solo, Malang, Kediri, Kalimantan Selatan, Bali, Bima, Pangkep dan Ambon.

PeaceSantren 2020 bertemakan “Releasing the deepest mind and healing the wounded emotion to reclaim the inner peace” mengajarkan anti-bully dan 2 nilai terakhir dari 12 Nilai Dasar Perdamaian (NDP) yaitu “Berani mengakui kesalahan & meminta maaf dan memaafkan”. Lewat metode refleksi dan sharing, peserta saling berbagi pengalamannya tentang bully.

Banyak kisah mereka kala menjadi korban bully, tetapi tak sedikit juga yang mengakui bahwa mereka adalah pelaku bully. Melalu metode tersebut, peserta diajak untuk dapat melakukan aksi nyata yaitu mengakui kesalahan, meminta maaf dan memaafkan. Di akhir program, semua peserta diarahkan untuk membuat surat dan video permohonan maaf.

Baca Juga  Newsletter Edisi #2 - April 2020

Banyak sekali cerita-cerita yang sangat luarbiasa dan menyentuh hati. Satu diantaranya cerita dari AoP Sumedang. Dalam satu kelas program PeaceSantren, diikuti oleh siswa yangs ama (satu kelas) di SMP nya, setelah belajar di PeaceSantren ini, mereka mengakui bahwa musuh-musuhan dan tidak saling menyapa itu tidak enak dan mereka tidak ingin mengakhiri hubungan persahabatan mereka kandas karena permusuhan. Pada akhirnya mereka saling meminta maaf dan memaafkan.

Proses mengakui kesalahan dan meminta maaf yang tulus juga tidak berjalan mudah bagi semua peserta. Sebagaimana cerita dari Bangka, seorang siswa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan membuat surat dan video “meminta maaf”. pagi berselang malam, surat dan video tidak kunjung selesai. Dia mengaku sulit untuk mengungkapkannya ke dalam surat dan video, sampai malam beranjak larut, barulah selesai. Beruntung, ia mendapatkan fasilitator yang dengan sabar membimbing dan menemani peserta yang mengalami kesulitan.

Baca Juga  Irfan Amalee Menjadi Salah Satu Penerima Penghargaan Indika Energy 2018

Agar lebih menghayati permohonan maafnya, surat bisa disampaikan dengan Bahasa ibu mereka. Berikut contohnya:

Banyak testimoni dan pengakuan baik dari fasilitator dan peserta PeaceSantren kali ini sangat mengubah mindset dan pemahaman mereka tentang siapa diri mereka dan benar-benar membawa perubahan positif pada setiap siswa yang mengikuti.

Diantara tesmitoninya:

“Materi bully menjadi materi paling seru, karena mereka tinggal bersama sepondok dan menganggap semua halnya wajar-wajar saja. Setelah melalui pembelajaran mereka akhirnya sadar bahwa ada sesuatu yang harus dihormati dan dijaga dari seorang teman. Tugas video dan surat permintaan maafpun telah mereka kirim kepada saya. Salah satu surat yang sangat membuat saya terharu adalah surat permintaan maaf Raihan kepada Nadia karena dialah yang menyebabkan Nadia pindah dari pondok akhirnya.
Pengakuan semacam ini tidak pernah saya dengar sebelumnya bahkan ketika mereka di pondok, tetapi “magic” nya program PeaceSantren ini, mampu menggali apa yg tersimpan dan terpendam”. – Nurul, Fasilitator Bima.

Baca Juga  Power Nap Buat Aktivitasmu Makin Mantap

“Ada perubahan yang saya rasakan dalam diri saya, misalnya saya menjadi lebih sadar bahwa meminta maaf bukanlah hal yang menjadikan harga diri kita jatuh dan cemen”, – Siroj Abdul Aziz, peserta Purwokerto.


PeaceSantren ini menjadi gerakan bersama-sama semua AoP dengan hashtag #Pahlawanantibully #Beranimintamaaf #Energipositif #Memaafkan #Berdamai di seluruh Indonesia. Peserta membuat tulisan yang sangat kreatif berisi ajakan STOP Bully dan cara meminta maaf yang benar yang mereka pos di sosial media Chapter dan pribadi mereka.

Dilaporkan oleh Hayati.