Permanian Papan (Boardgame) sebagai Solusi Edukasi Pendidikan Perdamaian

BANDUNG,- PeaceGeneration Indonesia bekerja sama dengan Ludenara dan Kummara laksanakan pelatihan “Game Based Learning for Peace” untuk tenaga pendidik dan profesional di Bandung. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Peace Academy tersebut dilaksanakan di Galery Boardgame Indonesia (Play Space by boardgame.id) pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019.

Miftahul Huda, trainer dari PeaceGeneration mengemukakan bahwa pelaksanaan kegiatan game based learning for peace akan sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik dan profesional dalam menambah media ajar terkhusus edukasi mengenai perdamaian melalui permainan papan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Boardgame for Peace (BGFP) yang terlaksana pada tahun 2017-2018 di 12 Kota di Indonesia dalam menangkal radikalisme dan ekstrimisme.

“Melalui Boardgame for Peace, kami sudah menyasar siswa SMA dan Mahasiswa di 12 Kota di Indonesia, dalam menangkal radikalisme dan ekstrimisme. Disini kita akan belajar bagaimana proses pembelajaran melalui permainan menjadi efektif,” ungkapnya saat membuka kegiatan tersebut, Sabtu (12/10).

Selanjutnya peserta diajak untuk mengalami secara langsung proses belajar melalui permainan papan Galaxy Obscurio, sebuah permainan layaknya permainan uno atau remi yang banyak terdiri dari banyak kartu bergambar tetapi dengan peraturan yang berbeda. Peserta ditugaskan sebagai penjaga galaxy yang harus memenuhi kebutuhan planetnya untuk mengumpulkan alien sebagai penghuninya dan menjaga planet tersebut dari serangan asteroid bernama visco. Diawal permainan terjadi persainga sengit antar planet, sehingga tak ada satu planet pun yang menang, ditambah serangan bertubi dari asteroid visco yang membuat semua galaxy luluh lantah.

Eko Nugroho, pakar permainan yang merupakan Founder & CEO dari Kummara, mengungkapkan bahwa permainan Galaxy Obscurio ciptaanya, didesain bukan untuk berkompetisi tapi berkolaborasi. Sehingga wajar jika semua pemain kalah, karena fokus pada kelestarian planetnya sendiri, sementara planet yang lain hancur dan menyebabkan keseimbangan galaxy terganggu.

“Semua hancur, tidak ada yang menang. Karena masih saling mementingkan dirinya sendiri, padahal ada ancaman besar yang mengintai: Asteroid Visco. Di zaman sekarang virus tersebut melambangkan ancaman bagi kita dan lingkungan sekitar kita, seperti: Ekstrimisme, Radikalisme dan Intoleransi,” jelas Eko.

Selain Galaxy Obscurio, terdapat satu boardgame lain yang digunakan selama BGFP yaitu: The Rampung. Pada sesi ini, setiap peserta ditugaskan untuk dapat menjadi fasilitator sekaligus peserta dalam permainan, sehingga perlu mendalami aturan dan tujuan dari permainan tersebut. Pada kegiatan tersebut, peserta diberi edukasi mengenai bagaimana metode belajar melalui permainan bekerja melalui Lima tahap:

Pertama planning, proses dimana peserta mendalami permainan hingga dapat mengerti secara komprehensif, sampai dapat melihat bagaimana pola dari permainan tersebut dari awal hingga akhir sesi. Kedua sebelum permainan dimulai, peserta harus melakukan Briefing, yaitu saat fasilitator membacakan narasi dari permainan serta aturan-aturannya. Selanjutnya, peserta dipersilakan untuk bermain.

Ketiga, tahap ini merupakan Game Session yaitu saat permainan berlangsung. Pada bagian ini fasilitator akan masuk kedalam lingkup permainan untuk melakukan pengarahan hingga intervensi, agar permainan semakin menarik dan terarah. Fasilitator juga melakukan observasi pada setiap sesi dalam permaian tersebut. Keempat De-Briefing (Post-Game Session), merupakan akhir dari sesi permainan. Fasilitator akan memfasilitasi peserta untuk berefleksi akan pesan dan nilai apa saja yang terkandung dalam permainan tersebut, ditambah dengan kejadian-kejadian yang terjadi saat permainan berlangsung.

“Tahap kelima adalah evaluasi secara keseluruhan dari permainan, sehingga permainan tersebut dapat menjadi ajar dalam melakukan proses edukasi, karena disana pemain akan dilatih mulai dari literasi hingga strategi,” tambah Eko.

Lebih lanjut Eko menjelaskan bahwa permainan itu bak Keris Mandraguna, yang bisa menjadi tidak berarti banyak atau bahkan malah digunakan sebagai pisau dapur untuk sekadar memotong bawang, jikalau kita tidak hafal ajiannya. Pentingya menggali nilai dari setiap permainan menjadi kunci utama dalam proses pembelajaran melalui permainan.

Hal tersebut dirasakan oleh peserta Ari, Dosen FK Universitas Padjadjaran, beliau mengatakan selama mengikuti kegiatan pelatihan sepanjang hari, tidak pernah semenyenangkan ini. “Berasa lagi di rumah; kita seperti sedang bermain padahal sebetulnya kita tengah belajar,” ungkapnya.***(SK)

 

Penulis: Jawad, Tim Sekolah CERDAS PeaceGeneration