Saat Masyarakat Amerika yang Berkulit Hitam Tuntut Keadilan

Stop Rasisme

 

Sebuah Perenungan dari Erik Lincoln.

Apakah saya rasis? Tidak mungkin, karena saya berasal dari negara yang telah memproklamasikan diri sebagai perisai demokrasi dan penjamin hak asasi manusia. Kami telah menobatkan diri sebagai polisi dunia yang setia memperjuangkan hak kaum minoritas dan “orang lemah”.

Apakah saya rasis? Tidak mungkin—saya telah melatih ribuan guru di Indonesia bagaimana menerapkan pendidikan perdamaian di sekolahnya; bahkan saya pernah diundang ke acara Kick Andy bersama Irfan Amalee dan mempromosikan toleransi dan cinta terhadap semua orang.

Keyakinan bahwa saya bukan rasis berbenturan dengan realita saat saya melihat perusuh di LA dan Minneapolis, AS. Yang pertama muncul dalam benak saya adalah, “Kenapa orang jahat ini memanfaatkan kekacauan untuk merusak dan mencuri? Tidak beradab mereka!”

Baca Juga  Serial Podcast: Episode 5 - Siapa Saja Bisa Menjadi Pelaku

Kenyataan yang berbenturan kembali hadir dalam pikiran, bahwa saya adalah “orang non-rasis” saat saya mendengar bahwa ada empat orang polisi yang “membunuh” seorang maling “kelas teri” yang kebetulan berwarna kulit gelap. Yang pertama saya ucap pada saat itu? “Pasti ada cerita yang tidak kita tahu. Pasti polisi punya alasan. Tidak mungkin disengaja.”

Sekarang saya mulai sadar. Sulit sekali saya berempati terhadap orang kulit hitam di Amerika karena pengalaman saya jauh berbeda dengan mereka. Saya tidak pernah disebut maling karena saya keluar malam hari; orang tidak pernah menjauhi saya kalau masuk lift bersamaan dengan saya; saya tidak pernah ditolak menyewah rumah dengan alasan yang tidak masuk akal. Kalau saya diberhentikan saat mengemudi, tidak pernah saya berpikir akan dipukul atau dibawa ke kantor polisi dengan alasan macam-macam. Mama saya tidak pernah menangis karena tidak ada makanan di rumah atau tidak ada pekerjaan bagi anaknya.

Baca Juga  Kecerdasan dalam 9 Tipe. Mana yang Kamu Banget?

Sebagai seorang laki-laki yang berkulit putih, saya adalah insan yang selalu diberi kesempatan dan tidak pernah hidup dihantui bayang-bayang kekerasan dan ketakutan. Sulit sekali saya berempati. Lambat sekali saya berteriak menuntut keadilan. Saya lebih berempati terhadap pemilik toko yang dijarah karena itu yang dapat saya pahami, dibanding berempati terhadap ribuan anak berkulit sawo matang (apalagi orang kulit hitam!) yang dilahirkan di dunia yang tetap mengutamakan kulit putih dan mendiskriminasi tanpa rasa bersalah.

Baca Juga  Pengumuman Seleksi LGD Program Frosh ID - ITB

atas semua pikiran-pikiran ini, saya ingin memohon ampun pada Sang Pencipta.

Ampunilah saya, ya Allah! Berilah saya empati. Jadikanlah saya seseorang yang menghargai, mengasihi, dan membela semua orang yang telah Engkau ciptakan. Engkau tidak pernah salah pilih warna kulit kami; justru kami terlalu sering berprasangka terhadap karya Engkau yang indah. Ya Allah! Tolong redakan kerusuhan dan kekacauan di Amerika. Damaikanlah bumi ini, lindungilah kami.

 

 

 

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!