Training PeaceGen Kids Bersama Guru Pos Paud di Kelurahan Pasirbiru

PGKids (PeaceGen Kids) bekerja sama dengan program SITI (Sistem Deteksi dan Penanganan Dini Ekstremisme Kekerasan) dalam rangka pencegahan tindakan kekerasan ekstremisme yang mengincar anak PAUD. Menurut BNPT, perkembangan radikalisme di Indonesia sudah masuk ke ranah pendidikan, termasuk PAUD. Salah satu contoh kasusnya ialah seorang siswa PAUD di Yogyakarta yang tidak mau diajak orang tuanya ke mall karena menganggap orang lain itu kafir. 

Pembukaan Training oleh Kepala Desa Pasirbiru

Wacana pencegahan radikalisme sejak dini pun telah disampaikan Kemendikbud di bawah menteri Nadiem Makariem. Dalam hal ini, Kemendikbud tengah menyusun program pendidikan karakter yang akan diterapkan di sekolah-sekolah PAUD di Indonesia. Untuk mendukung program tersebut, PGKids sebagai bagian dari Peace Generation mengutamakan pembelajaran 12 nilai perdamaian dan pembentukan karakter anak usia dini melalui training fasilitator untuk guru pos PAUD di Kelurahan Pasirbiru.

Pos PAUD yang mengikuti training terdiri dari lima, yaitu Al-Hidayah, Aster, Matahari, Saribiru, dan Flamboyan yang diwakili masing-masing dua guru. Selama training, guru-guru dibimbing untuk menjadi fasilitator yang mampu menyampaikan nilai-nilai perdamaian bukan dengan cara diajarkan, namun dengan proses anak-anak yang mampu menemukan dan memahami. 

Materi training pun dirancang secara holistik untuk anak-anak mempelajari 12 nilai perdamaian melalui buku cerita. Cerita tersebut kemudian diperkuat dengan permainan lagu dan kegiatan kreatif yang menyenangkan. 

Penyusunan materi secara holistik ini memungkinkan anak-anak untuk belajar nilai perdamaian sambil mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan fisik yang sesuai dengan tahap dan tugas perkembangan anak. Dalam hal ini, PGKids dirancang agar anak-anak dapat belajar tentang karakter nilai yang berdasarkan prinsip perdamaian melalui persahabatan. 

Prinsip dalam training PGKids ialah aktif, kreatif, dan efektif. Untuk prinsip aktif kegiatan belajarnya mendorong guru-guru untuk bergerak, bernyanyi, dan terlibat penuh. Sementara itu, prinsip kreatif mendorong anak-anak untuk melakukan kegiatan kerajinan dan mengembangkan kreativitas mereka. Untuk prinsip efektif, anak-anak akan belajar daripada diajar melalui cerita dan kegiatan belajar.

Dalam training ini guru-guru diarahkan agar bisa mengantarkan kegiatan belajar yang sesuai dengan prinsip PGKids. Nilai-nilai yang telah dipelajari pun diharapkan menjadi fondasi baik untuk mencegah kekerasan dan perilaku bully dan menyakiti pada siswa bisa dicegah. Metode yang digunakan guru-guru dalam mempraktikkan training PG Kids ini ialah TANDUR. Metode TANDUR ini mengajak guru-guru untuk memunculkan minat anak sebelum belajar hingga mengapresiasi usaha  belajar anak dalam ketika kegiatan belajar.

Simulasi Mengajar PG Kids

Guru-guru pos PAUD yang telah mempelajari materi training PG Kids selanjutnya melakukan simulasi. Guru-guru tersebut mempersiapkan bahan-bahan seperti barang bekas untuk membuat kriya sebelum simulasi dimulai. Kemudian guru-guru mempersiapkan lagu-lagu daerah untuk memperkenalkan kebudayaan di Indonesia kepada anak-anak. Nantinya anak-anak akan mendengarkan lagu daerah  sambil membuat kriya atau kerajinan dari barang bekas tersebut. 

Dalam simulasi mengajar PG Kids, guru-guru diberikan waktu selama 30 menit secara bergiliran. Ketika simulasi berlangsung, guru-guru yang lainnya berperan sebagai siswa. Di sisi lain, guru-guru yang berperan sebagai siswa memiliki kesempatan dalam memberikan komentar atau saran atas penampilan setiap simulasi. Hayati yang berperan sebagai fasilitator PG Kids pun ikut memberikan komentar dan saran untuk dipelajari dan pahami bersama. 

Simulasi oleh Kelompok Satu
Sesi kegiatan ULANGI dengan aktivitas kebangsaan dan bahasa
Kegiatan DEMONTRASI dengan gerakan dan lagu

Menurut guru-guru pos PAUD, training PG Kids ini memberikan banyak manfaat seperti lebih mengerti dan memahami cara membacakan cerita, mengerti tentang karakter dan perbedaan-perbedaan yang harus ditanamkan kepada anak-anak, membuka wawasan tentang alat peraga dari limbah di lingkungan sekitar, dan mengetahui cara mencegah ekstremisme kekerasan kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. (Mela)