‘Aisyiyah Boarding School Bandung Menumbuhkan Budaya Sekolah Happy Tanpa Bully di Lingkungan Pesantren Bersama PeaceGen Academy
PeaceGen.Id - Dalam lingkungan pesantren, intensitas pertemuan para santriwati terbilang sangat tinggi. Mereka tidak hanya berbagi ruang di kelas saat jam pelajaran, tetapi juga berbagi kehidupan di asrama selama 24 jam penuh setiap harinya. Para santriwati yang datang dari berbagai daerah tentu membawa latar belakang, kebiasaan, dan pola hidup yang beragam. Di sinilah tantangan dunia pesantren dimulai: tidak hanya dituntut menjadi tempat menuntut ilmu (akademis dan agama), tetapi juga wajib menjadi ruang aman bagi setiap santriwati untuk tumbuh dengan bahagia.
Menyadari hal tersebut, pihak sekolah ‘Aisyiyah Boarding School Bandung mengambil langkah proaktif. Meski kasus perundungan (bullying) fisik tidak ditemukan di lingkungan ‘Aisyiyah Boarding School Bandung, sekolah memandang pentingnya mitigasi dini terhadap "bibit-bibit bully" yang kerap luput dari perhatian. Gejala seperti penggunaan bahasa yang kurang santun serta adanya sekat senioritas.
Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, pihak sekolah ‘Aisyiyah Boarding School Bandung menggandeng PeaceGen Academy untuk mengulas materi Happy Tanpa Bully dalam Workshop Anti-Bullying bertajuk “The Culture of Care: Menjaga Kata, Membangun Karya”. Agenda ini dilaksanakan pada Jum’at, 1 Mei 2026, bertempat di Masjid Siti Walidah ‘Aisyiyah Boarding School Bandung.
Mengupas 20 Bibit Bully dengan Metode ARKA
Melalui topik "Happy Tanpa Bully", PeaceGen Academy mengajak para santriwati menyelami materi seputar bagaimana tindakan dan ucapan dapat berdampak mendalam bagi kesehatan mental seseorang. Menggunakan metode pembelajaran ARKA (Alami, Refleksi, Konseptualisasi, Aksi) yang interaktif, para santriwati diajak mengenali 20 bibit bully, memahami dampak psikologisnya, hingga mengidentifikasi ciri-ciri korban perundungan yang membutuhkan pertolongan.
Baca juga: Belajar Perdamaian Lewat Board Game for Peace: Peace Generation Aceh Meriahkan Earth Care Day 2026
Langkah preventif ini disambut hangat oleh Ibu Ayu Fauziah Lestari, S.Ag., Gr., selaku guru BK di ‘Aisyiyah Boarding School Bandung. Ia merasakan betul dampak positif dari pendekatan yang dibawa oleh fasilitator PeaceGen Academy.
“Alhamdulillah, saya sebagai guru BK sangat terbantu dengan hadirnya PeaceGen Academy ke sekolah kami. Workshop hari ini sangat menyenangkan dan insightful, saya mulai tercerahkan. Ke depannya, mungkin sekolah kami akan melanjutkan kerja sama dengan PeaceGen Academy untuk menciptakan sekolah yang nyaman dan ramah anak,” ungkap Bu Ayu.
Kesan mendalam juga dirasakan oleh para guru karena antusiasme santriwati yang begitu tinggi. Bahkan, saking serunya proses refleksi dan diskusi, para santriwati sempat menahan tim fasilitator saat hendak pulang karena masih banyak cerita dan keluh kesah yang ingin mereka bagikan.
Kesadaran Baru dari Sudut Pandang Santriwati
Bagi para santriwati, workshop ini membuka mata mereka terhadap kebiasaan sehari-hari yang ternyata bisa menjadi akar perundungan. Salah satunya diakui oleh Athaya Khansa Putri Ammar. Ia baru menyadari bahwa budaya membuat geng atau kelompok eksklusif termasuk salah satu bibit bully.
“Selama ini, aku lebih sering berkumpul di satu kelompok yang bikin nyaman saja. Ternyata dari Interactive Talkshow Happy Tanpa Bully bareng PeaceGen Academy ini, aku baru sadar kalau geng-gengan itu salah satu bibit bully,” ucap Athaya.
Athaya juga menambahkan pentingnya edukasi ini bagi semua kalangan.
“Tentunya aku merekomendasikan semua orang wajib tahu, dari dewasa, remaja, dan anak kecil. Tanpa kita sadari kita pernah melakukan bullying yang mungkin berdampak ke orang-orang. Jadi mau itu dewasa, remaja, atau anak kecil, wajib tahu mengenai pencegahan bullying.”
Baca juga: Menumbuhkan Fasilitator Perdamaian: Training of Facilitator (ToF) Peace Generation Aceh 2026
Kesadaran untuk memecah sekat senioritas juga disuarakan oleh Ataya. Menurutnya, komunikasi yang cair adalah kunci.
“Kita tuh butuh lho guys, saying hi to everyone, menyapa satu sama lain biar enggak terlalu canggung. Misalnya saling komunikasi antara kakak kelas dan adik kelas biar tidak adanya kesalahpahaman atau gosip.”
Di sisi lain, keseruan metode roleplay (bermain peran) berhasil memantik empati para santriwati untuk berani bertindak jika melihat ketidakadilan di depan mata. Qory Qur'ani Qurrota'aini, salah satu peserta, mengaku tergerak untuk menjadi seorang upstander.
“Seru banget bisa akting roleplay dan belajar bibit bully. Kita bisa tahu isi hati korban dan pelaku. Kita juga jadi sadar harus bisa membela korban bully! Aku jadi tahu jenis dan ciri-ciri bully. Penting untuk belajar jenis dan ciri bully ini di pertemanan. Takutnya kita enggak sadar menjadi pelaku atau korban. Jadi, kalau bercanda jangan berlebihan sampai menyakiti hati orang,” kata Qory.
Keberlanjutan dan Aksi Nyata
Tidak berhenti pada teori, workshop ini ditutup dengan serangkaian aksi nyata. Puncak acara ditandai dengan penunjukan "Agen Perdamaian" dari setiap kelas, dilanjutkan dengan Grand Declaration. Seluruh warga sekolah bersama-sama membacakan “Deklarasi Welas Asih”, lalu diakhiri dengan penandatanganan piagam deklarasi oleh seluruh siswa dan guru.
Melalui kolaborasi ini, PeaceGen Academy berharap dapat terus berkontribusi dalam penguatan ekosistem sekolah dan pesantren yang aman, nyaman, serta ramah anak.
Tertarik membangun budaya sekolah damai dan bebas perundungan di sekolah Anda?
Mari berkolaborasi dengan PeaceGen Academy! Hubungi kami melalui email di: [email protected] atau kunjungi Instagram @peacegen.academy!