Upaya 50+ Guru dalam Membiasakan Budaya Damai di Sekolah Bersama PeaceGen

PeaceGen.Id - Hingga kini, isu perundungan atau bullying masih menjadi tugas besar bagi kita, para praktisi pendidikan. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan prinsip ramah anak mampu mencegah berbagai bentuk kekerasan dan bullying. Salah satunya, melalui penekanan hubungan saling menghargai antara guru dan siswa, tidak lupa melibatkan orang tua dan masyarakat, serta struktur kebijakan sekolah yang mendukung hak dan keselamatan anak.

Menciptakan lingkungan sekolah aman, nyaman, dan menggembirakan perlu kita upayakan dalam rangka menyukseskan harapan kita untuk perlindungan hak anak di lingkungan pendidikan yang inklusif. Dengan ini, PeaceGen Academy merangkul para guru di jenjang SD, SMP, dan SMA sederajat untuk berdiskusi bersama dalam Webinar Praktik Baik Holistik Penguatan Budaya Sekolah Aman, Nyaman, dan Menggembirakan pada Kamis, 12 Februari 2026.

Sekitar 50 guru ikut tergabung mendalami praktik baik pencegahan dan penanganan bullying bersama PeaceGen Academy. Kegiatan diawali dengan survei tentang apa saja kasus kekerasan dan ketidakamanan yang paling sering muncul di lingkungan sekolah para audiens. Hasilnya, bullying yang meliputi kekerasan verbal dan fisik masih mendominasi di kalangan siswa.

Baca juga: Upaya Bu Sarah Membangun Perdamaian di Tengah Siswa Multikultural bersama PeaceGen

Menjawab kekhawatiran tersebut, para guru sudah mengupayakan berbagai cara. Misalnya melalui tim TPPK dan pembinaan seperti konseling. Namun, mengapa bullying masih banyak terjadi di sekolah-sekolah? Barangkali memang masih ada upaya yang paling dibutuhkan, misalnya pendampingan, edukasi anak, ketegasan pemimpin, serta edukasi dan dukungan orang tua.

Bagaimana Caranya Kepala Sekolah Mengawali Budaya Sekolah Nyaman?

Ibu Sabarina Nur Sarah, M.Pd., Kepala Sekolah SMPN 25 Bandung, percaya bahwa untuk menciptakan sekolah yang aman, perlu diawali oleh keberanian dan ketegasan pemimpin. Sekolah aman bukan berarti tidak ada masalah, melainkan sekolah yang memiliki sistem pengelolaan masalah. Untuk mengawali budaya sekolah aman dan nyaman, Bu Sarah meyakini bahwa perubahan mendasar diawali dari sistem. Kepala sekolah sebagai pemimpin harus punya keberanian untuk mengambil kebijakan.

Guru BK Memegang Andil Besar dalam Menyikapi Sekolah Aman dan Nyaman!

Ibu Ria Eka Lestari, S.Si., Penanggung Jawab BK SD Muhammadiyah Manyar, menyoroti bahwa sekolah aman dan nyaman dimulai dari bagaimana siswa merasa nyaman di lingkungan sekolah sendiri. Implementasi ini lahir dari bagaimana fenomena rompi oranye di sekolah yang ditujukan untuk menegakkan kedisiplinan bagi siswa yang melakukan pelanggaran. Siswa diwajibkan memakai rompi oranye selama seharian sebagai sebuah hukuman. Ternyata hukuman ini membuat banyak siswa merasa tidak nyaman. 

Bagaimana Dampak yang Dirasakan Para Guru dalam Webinar Ini?

“Apa yang dijelaskan narasumber menjadi penguat bagi saya dalam penanganan siswa di sekolah.”

-Pak Agus Nurjaman, Guru

Baca juga: Kisah Inspiratif Ibu Ega dalam Melawan Cyberbullying melalui Literasi Digital di SMP

“Webinar ini sangat keren untuk saya yang bergelut di dunia pendidikan. Saya mendapatkan banyak insight dan perspektif baru terkait menciptakan sekolah aman, nyaman, dan menggembirakan. Mengikuti webinar ini menyadarkan saya bahwa sebelum membangun sistem, yang paling penting adalah ‘kepalanya’, para pengambil keputusan tertinggi di sekolah.

Budaya aman dan nyaman tidak lahir dari dokumen, tetapi dari pola pikir dan komitmen pemimpinnya. Kekerasan mungkin tidak bisa sepenuhnya hilang, namun kita selalu punya pilihan untuk meminimalisirnya. Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sangat krusial sebagai penentu arah budaya sekolah yang aman, inklusif, dan menggembirakan.”

-Bu Masyitha, Guru

Jika Bapak/Ibu guru tertarik untuk berkolaborasi dengan PeaceGen lebih lanjut, silakan hubungi kami melalui email [email protected]


Baca juga: Cerita Guru: Langkah Preventif Rega Nugraha Hadapi Ancaman Digital di Lingkungan Pesantren


Bagikan