Harapan Besar Pak Konstantinus Aman untuk Pendekatan Pendidikan yang Lebih Setara di Nusa Tenggara Timur
Di sebuah wilayah di Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, seorang pendidik bernama Konstantinus Aman menjalankan kesehariannya sebagai guru Pendidikan Agama Katolik di SMA Negeri 3 Macang Pacar.
Baginya, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi setiap siswa tanpa terkecuali. Hal ini yang membawanya mengikuti webinar tentang budaya sekolah aman dan nyaman yang diselenggarakan oleh PeaceGen Academy dan PeaceGeneration Indonesia.
“Bagi saya, ini kesempatan untuk sedikit men-sharing-kan bagaimana situasi sekolah kami di pelosok,” ujarnya.
Tantangan yang Terjadi di Lapangan
Pak Aman pernah dipercaya menjadi bagian dari Satgas TPPK, sehingga pengalaman itu membuatnya semakin dekat dengan berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan, termasuk bullying.
Menurutnya, persoalan pendidikan di daerahnya tidak bisa dilepaskan dari latar belakang sosial dan budaya masyarakat sekitar. Sebagian besar siswa berasal dari lingkungan dengan pola hidup dan pola pengasuhan yang serupa. Banyak orang tua bekerja di kebun sejak pagi hingga sore hari. Dalam situasi tertentu, perhatian terhadap pendidikan anak sepenuhnya diserahkan kepada sekolah.
“Kondisi ini bukan semata-mata karena orang tua tidak peduli, melainkan karena keadaan hidup yang memaksa mereka fokus pada pekerjaan sehari-hari,” ujarnya.
Semangat Pak Aman dalam Mengimplementasikan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman
Pernyataan Pak Aman menjadi refleksi penting bahwa perubahan budaya sekolah tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang saklek. Ada konteks sosial, budaya, dan kebiasaan panjang yang perlu dipahami bersama.
Baginya, pendidikan karakter bukan sekadar teori dalam kurikulum, melainkan proses panjang yang perlahan membentuk kesadaran anak-anak tentang siapa diri mereka dan ingin menjadi seperti apa di masa depan.
Karena itulah webinar dari PeaceGen Academy dan PeaceGeneration Indonesia yang ia ikuti terasa sangat bermakna. Pak Aman menemukan perspektif baru tentang bagaimana membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman tanpa kehilangan konteks realitas sekolah di daerah.
“Saya coba cari tahu lagi tentang PeaceGeneration, ternyata memang sudah bergerak di isu pendidikan karakter yang tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan,” kata Pak Aman.
Menurutnya, selama ini sekolah sering terlalu fokus pada aspek akademik dan tuntutan kurikulum. Sementara pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan justru perlahan terlupakan.
“Kadang kami terlalu fokus pada pedagogiknya, sehingga agak lupa pada pembangunan karakter manusianya,” ujarnya.
Antusiasme dalam Menerima Materi
Dalam webinar tersebut, Pak Aman merasa mendapatkan banyak hal baru. Bukan hanya materi, tetapi juga inspirasi dan ruang kolaborasi. Ia mengaku senang karena bisa mendengar langsung pengalaman sekolah-sekolah lain yang telah menjalankan praktik baik dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Baca juga: Upaya 50+ Guru dalam Membiasakan Budaya Damai di Sekolah Bersama PeaceGen
“Praktik baik dari sekolah-sekolah itu menjadi pemantik semangat bagi saya. Kenapa kami tidak mencoba melakukan hal yang sama?” ucap Pak Aman.
Baginya, salah satu kekuatan webinar tersebut adalah cara penyampaian materinya yang sederhana dan dekat dengan realitas sekolah.
Pak Aman juga mengapresiasi pendekatan yang digunakan para pemateri karena tidak terlalu teoritis. Sebagai guru di lapangan, ia merasa pendekatan praktis jauh lebih membantu dibanding sekadar konsep-konsep abstrak yang sulit diterapkan.
“Kalau terlalu banyak teori kadang pecah juga. Tapi kalau praktis seperti ini jadi lebih mudah dipahami,” kata Pak Aman dengan antusias.
Semangatnya dalam mengimplementasikan webinar sungguh tinggi. Pak Aman meminta kembali materi presentasi kepada panitia untuk dipelajari ulang. Ia merasa bahwa pelatihan seperti ini seharusnya tidak berhenti hanya pada satu pertemuan. Menurutnya, guru-guru di daerah membutuhkan ruang belajar yang berkelanjutan, terutama terkait pendidikan karakter dan budaya sekolah aman.
“Jangan sampai setelah webinar selesai lalu lepas begitu saja,” katanya.
Harapannya akan Keberlanjutan
Harapan terbesar Pak Aman sangat mulia, ia berharap sekolah-sekolah di daerah juga bisa perlahan menjangkau pendekatan pendidikan yang setara tanpa kehilangan akar budaya mereka sendiri.
Ia sadar perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Tetapi ia percaya setiap langkah kecil tetap berarti. Semangat guru-guru seperti Pak Aman menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, namun tentang membangun karakter. Sehingga anak-anak merasa aman di sekolah dan ruang kelas bisa menjadi tempat tumbuhnya empati.
Di akhir wawancara, ketika diminta menyebutkan satu frasa yang paling menggambarkan webinar tersebut, Pak Aman menjawab singkat:
Baca juga: Upaya Bu Sarah Membangun Perdamaian di Tengah Siswa Multikultural bersama PeaceGen
“Budaya sekolah aman dan nyaman.”
Di balik jawaban tersebut, tersimpan harapan panjang dari Pak Aman yang percaya bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, berhak tumbuh di lingkungan pendidikan yang lebih baik.
Ingin berkolaborasi dalam membentuk sekolah aman dan nyaman? Hubungi [email protected]