Upaya Bu Sarah Membangun Perdamaian di Tengah Siswa Multikultural bersama PeaceGen
PeaceGen.Id - Menjadi seorang pemimpin di tengah-tengah keberagaman tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, Bu Sarah melihat situasi ini sebagai sebuah tantangan sekaligus kekuatan untuk membangun sebuah ekosistem pendidikan yang aman dan bermakna. Ia adalah Sabarina Nur Sarah, M.Pd., kepala sekolah SMPN 25 Bandung.
Sekolah ini terletak di pusat kota Bandung yang memiliki masyarakat multikultural. Di satu sisi dekat dengan masjid, di sisi lainnya berdekatan dengan kelenteng. Maka dari itu, para siswa SMPN 25 Bandung datang dari beragam latar belakang sosial, budaya, agama, maupun karakter. Dengan fondasi ini, Bu Sarah membawa harapan untuk menjadikan SMPN 25 Bandung sebagai ‘Sekolah Damai’ pada tahun 2026.
Keresahan Bu Sarah pada dunia pendidikan datang dari realitas sekolah yang dihadapkan pada tantangan nonakademik yang jumlahnya lebih banyak dari tantangan akademik. Sebagai tenaga kependidikan yang tergabung dalam Satgas PPKSP (Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan), Bu Sarah mencatat dalam beberapa bulan terakhir saja, aduan mengenai perundungan atau bullying di berbagai jenjang sekolah cukup meresahkan.
Dari hasil identifikasinya, Bu Sarah menemukan bahwa akar masalahnya terletak pada rapuhnya empati siswa, dinamika remaja yang luar biasa, tantangan literasi digital, isu intoleransi, dan rentannya kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Baca juga: Kisah Inspiratif Ibu Ega dalam Melawan Cyberbullying melalui Literasi Digital di SMP
Maka dari itu, Bu Sarah menegaskan bahwa guru dan orang tua perlu bersama-sama berupaya mendampingi anak-anak menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Semua ini ia kerahkan demi menangani isu-isu kerentanan pada siswa. Ia berharap, ke depannya akan tercipta suasana sekolah yang aman, inklusif, dan berdaya. Berdaya baginya adalah ketika peserta didik mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan memiliki kesadaran damai yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Bu Sarah, sejak pertemuan pertamanya dengan PeaceGeneration Indonesia seakan menjawab kekhawatirannya selama ini.
“Nilai-nilai yang dibawa oleh PeaceGen seperti perdamaian, toleransi, literasi digital yang sehat, dan penguatan peran pendidik menjawab kebutuhan saya secara nyata,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan PeaceGen terasa lebih kontekstual dan relevan. Lebih dari sekadar program, PeaceGen mampu membangun kesadaran dan perubahan pola pikir yang berpengaruh besar dalam menciptakan perubahan.
Hal ini ia utarakan setelah ia merangkul PeaceGen dalam berbagai kegiatan, baik itu untuk guru maupun untuk orang tua, seperti Ia berpendapat bahwa metode aktivitas langsung yang dibawakan PeaceGen membuat suasana pematerian lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
“Program seperti peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru, webinar literasi digital, hingga kegiatan pelibatan orang tua memberikan dampak nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar seremoni,” ujarnya.
Baca juga: Cerita Guru: Langkah Preventif Rega Nugraha Hadapi Ancaman Digital di Lingkungan Pesantren
Ke depannya, Bu Sarah berharap mampu memperluas kolaborasi dengan PeaceGen melalui program yang lebih terstruktur dan berkelanjutan demi mewujudkan ‘Sekolah Damai 2026’.
“Kami masih memerlukan penguatan literasi digital yang beretika serta pelibatan orang tua sebagai mitra strategis dalam memperkuat budaya damai di sekolah,” ucapnya dengan semangat.
Langkah yang Bu Sarah jalani menjadi pengingat bagi kita bahwa cita-cita pendidikan bukan hanya tugas pemimpin semata. Kepala sekolah perlu merangkul guru, orang tua, dan siswa untuk bersama-sama berkolaborasi menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan damai.
Bapak/Ibu guru ingin mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas guru seperti Bu Sarah? Follow instagram @peacegenid dan @peacegen.academy untuk informasi kegiatan peningkatan kapasitas lainnya!
Untuk Bapak/Ibu guru yang ingin berkolaborasi lebih lanjut dengan PeaceGen, silakan hubungi kami melalui email [email protected]
Baca juga: 150+ Guru Menjadi Agen Perubahan untuk Mewujudkan Sekolah Aman Digital bersama PeaceGen