PeaceGen Memperkuat Sekolah Happy Tanpa Bully melalui Jambore Agen Perdamaian 2026
Pada 27-28 Oktober 2026, PeaceGeneration Indonesia (PeaceGen) baru saja berhasil melaksanakan Jambore Agen Perdamaian (JAP) yang pertama dan diadakan di Kampus II Unisba Ciburial Bandung.
Jambore Agen Perdamaian ini menjadi agenda tahunan PeaceGen yang mengajak para siswa, guru, dan orang tua untuk belajar, bermain, berjejaring, dan berbagi pengalaman/praktik baik untuk bersama-sama membangun budaya damai dan non-kekerasan.
PeaceGen membawakan topik utama Happy Tanpa Bully pada agenda JAP tahun ini dan menjadi momen pertemuan siswa, guru, dan orang tua dari sekolah-sekolah yang sudah berproses membangun lingkungan aman, mempertemukan praktik baik, dan memperluas gerakan Happy Tanpa Bully bersama PeaceGen.
Jambore Agen Perdamaian 2026 dihadiri oleh 145 peserta, terdiri dari 44 guru, 92 siswa, dan 9 orang tua dari 27 sekolah yang tersebar di Jawa Barat dan Makassar. Mereka diberikan tantangan untuk menyelesaikan 10 misi “Membasmi Virus BulBul” untuk meraih gelar “Agent of Peace” (AoP), sebutan bagi agen perdamaian yang akan menyebarkan nilai-nilai perdamaian non-kekerasan di lingkungannya.
Melalui metode experiential learning, para peserta menjalani misi-misi berupa aktivitas menyenangkan seperti permainan, talkshow, workshop, showcase praktik baik, aktivitas kolaboratif, dan rekognisi peserta menjadi duta Happy Tanpa Bully.
Setelah menyelesaikan 10 misi, 145 peserta mengikrarkan Peace Promise yang berisi janji untuk mewujudkan damai di mana pun mulai dari diri sendiri dengan dipandu oleh Co-Founder PeaceGen, Eric Lincoln Maxey. Dengan ini, para partisipan telah resmi menjadi Agent of Peace (Agen Perdamaian).
Dua Co-founder PeaceGeneration Indonesia, Irfan Amali dan Eric Lincoln Maxey, hadir dan membersamai para peserta untuk bermain dan belajar pada JAP 2026. Kegiatan ini dihadiri juga oleh Pengawas Yayasan PeaceGeneration Indonesia, Ani Farhani dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII, H. Sriyuda Ermansyah, S.T., M.Si. yang juga memberi sambutan pada acara untuk mengingatkan para peserta berikut.
“Harapannya bagaimana acara ini bukan hanya permainan saja, tapi menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kesadaran, empati, toleransi, dan keberanian menciptakan lingkungan sekolah bebas bullying. Ini menjadi tugas bagi para calon Agen Perdamaian untuk bisa menjadi tanggung jawab kita semua menciptakan ekosistem aman, nyaman, dan positif. Kepsek dan guru perlu jadi teladan, orang tua juga perlu mendukung.”
Dalam keterangan resminya, Irfan Amali menceritakan tujuan utama diadakannya Jambore Agen Perdamaian sebagai inisiasi PeaceGen dalam memperluas praktik baik dalam membangun ekosistem sekolah yang aman dan bebas dari bullying.
“JAP adalah sebuah inisiasi untuk menyediakan wahana bagi sekolah yang sudah berupaya membangun ekosistem perdamaian di sekolahnya. Tahun ini, fokus JAP ada di Sekolah Happy Tanpa Bully dengan sekitar 27 sekolah yang sudah berproses dari pelatihan guru, siswa, dan orang tua, sampai menyusun SOP-nya. Inisiatif-inisiatif baik ini harus kita afirmasi dan kita tularkan inspirasinya. Masalah bully adalah masalah sekolah yang tidak aman untuk anak-anak dan merupakan masalah besar yang kita hadapi. Tetapi, kalau kita fokus pada masalah, kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat solusi. Ternyata solusi ini sudah ada, bahkan sejumlah sekolah sudah menerapkan solusi ini. Sehingga hal-hal yang baik ini harus kita afirmasi.”
- Irfan Amali (Direktur Eksekutif & Co-Founder PeaceGeneration Indonesia)
Baca juga: A Homogeneous School Environment Didn’t Stop Pak Agus from Creating an Inclusive School
Melihat perkembangan gerakan Agent of Peace sejak PeaceGen didirikan pada tahun 2007, Co-Founder PeaceGen, Eric Lincoln Maxey pada keterangan resminya turut menyampaikan kebanggaannya terhadap keberlanjutan gerakan perdamaian yang kini melibatkan semakin banyak sekolah dan generasi muda.
“Hari ini saya datang dari Kalimantan, rasanya bangga, kaget, dan terharu karena saya melihat pergerakan PeaceGeneration Indonesia masih berjalan dan tadi ada lebih dari 20 sekolah dan hampir 150 orang yang mau menjadi agen perdamaian. Waktu mendirikan PeaceGeneration Indonesia, kami bermimpi ada 100.000 Peace Makers di Indonesia, sekarang sudah ada 140.000+ dan saya bangga sekali. Saya senang PeaceGen selalu menyesuaikan diri dengan konteks dan isu-isu yang sedang hangat, seperti bullying karena itu satu masalah besar di pendidikan dan kita bahas sedalam-dalamnya.”
-Eric Lincoln Maxey (Co-Founder PeaceGeneration Indonesia)
Salah satu peserta, Athifa Naira Izza Rijanto, Duta Siswa Happy Tanpa Bully, membagikan pengalamannya mengikuti salah satu misi yang paling berkesan baginya.
“Menurut aku yang paling menarik itu Bioskop Harewos, gak pernah nemu di tempat lain, cuma di JAP ini. Berkesan, emosional, dan seru banget. Aku belajar kita harus menghargai orang selagi ada,” ucapnya.
Dari perspektif pendidik, Deni Candra Wijaya melihat JAP sebagai kesempatan untuk memperkuat praktik pencegahan bullying yang telah diterapkan di sekolahnya.
“Kita sudah menerapkan program yang hampir sama dengan PeaceGen, yaitu Happy Tanpa Bully dan penerapan 12 Nilai Dasar Perdamaian. Ini sudah diaplikasikan kepada siswa sebagai langkah pencegahan bully. Kami juga sudah punya penangkal atau SOP untuk menangani dan mencegah bully,” tegasnya.
Tidak hanya di lingkungan sekolah, salah satu orang tua juga semangat memperluas dampak Happy Tanpa Bully ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Dian Anggraeni, Duta Orang Tua Happy Tanpa Bully.
“Saya sudah mendapat banyak kebaikan, mudah-mudahan kebaikan itu tidak berhenti di saya. Jadi saya menebarkan virus-virus kebaikannya di lingkungan sekitar, seperti Paguyuban Orang Tua dan perkumpulan tetangga ibu-ibu majelis taklim pengajian tentang apa yang saya dapatkan dari Happy Tanpa Bully,” ucapnya.
Untuk menciptakan ekosistem damai dan bebas bullying, diperlukan kolaborasi yang kuat antara siswa, guru, dan orang tua. Jambore Agen Perdamaian 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi tersebut dapat mempertemukan berbagai perspektif untuk menciptakan Sekolah Happy Tanpa Bully.
PeaceGen berharap semangat dan praktik baik yang telah dibagikan selama kegiatan dapat terus diterapkan oleh para Agent of Peace, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Dengan begitu, upaya membangun budaya damai dan menciptakan lingkungan yang bebas dari bullying dapat terus tumbuh dan menyebar.