Budaya Homogen Bukan Halangan bagi Pak Agus untuk Menciptakan Sekolah Inklusif

“Proyek keberagaman yang dilakukan oleh SMK GENUS 5 CIKALONGWETAN bersama SMAK Yahya Bandung saya jadikan proyek percontohan pendidikan karakter dalam lomba guru inspiratif tk KCD wilayah VI (Kab. Bandung Barat dan Cianjur). Dalam proyek tersebut hasilnya mendapatkan predikat 3 terbaik. Ini membuktikan pendekatan yang difasilitasi oleh PeaceGen mendapatkan pengakuan secara akademis oleh tim juri yg terdiri dari praktisi pendidikan dan para pengawas pembina di KCD wilayah VI.” - Pak Agus


Ada hal yang selalu ingin Pak Agus tanamkan kepada siswanya selain pelajaran PPKN: bagaimana memahami orang lain.

Sudah lebih dari 20 tahun Pak Agus mendedikasikan dirinya untuk mengajar PPKN di SMK Gema Nusantara 5. Selama itu pula, ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang menyampaikan teori dan mengejar nilai akademik. Sekolah juga menjadi ruang untuk membentuk karakter siswa, mulai dari keterampilan sosial, empati, hingga kemampuan menghargai keberagaman.

Baca juga: PeaceGeneration Indonesia bersama Kemenag Luncurkan Proyek SALAM: Memperkuat Lingkungan Belajar yang Aman dan Penuh Cinta

Namun, mengajarkan keberagaman memiliki tantangannya sendiri. Mayoritas siswa di SMK Gema Nusantara 5 tumbuh dalam lingkungan yang relatif homogen. Mereka terbiasa berada di lingkungan dengan latar belakang yang serupa dan tidak banyak berinteraksi dengan kelompok yang berbeda.

Bagi Pak Agus, kondisi ini membuat keberagaman masih terasa asing bagi sebagian siswa. Ia pun mulai mencari cara agar siswa tidak hanya mengetahui apa arti keberagaman, tetapi juga terbiasa memahami dan menghargainya.

Menemukan Cara Belajar yang Berbeda

Jawaban itu mulai ia temukan pada 2022, ketika seorang rekan memperkenalkannya kepada PeaceGen. Melalui berbagai pelatihan PeaceGen, Pak Agus mengenal pendekatan game-based learning dan 12 Nilai Dasar Perdamaian (12 NDP). Ia melihat bahwa pendekatan ini dapat membawa pembelajaran tentang keberagaman menjadi lebih dekat dengan pengalaman siswa.

Alih-alih hanya menjelaskan tentang empati atau perbedaan, siswa diajak untuk mengalaminya secara langsung melalui permainan, diskusi, dan refleksi. Mereka belajar melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda dan memahami bagaimana setiap orang dapat memiliki pengalaman yang tidak sama. Bagi Pak Agus, pendekatan ini terasa praktis dan relevan. Ia pun mulai menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

Perlahan, ia melihat perubahan. Siswa yang sebelumnya cenderung pasif mulai lebih aktif berdiskusi. Mereka menjadi lebih terbuka untuk memahami perspektif orang lain dan belajar berinteraksi dengan perbedaan. Melihat dampaknya, Pak Agus menyadari bahwa pembelajaran ini tidak seharusnya berhenti di kelasnya sendiri.

Membawa Perubahan ke Sekolah

Setelah mengikuti pelatihan PeaceGen, Pak Agus mulai membagikan pengetahuan yang ia dapatkan kepada rekan-rekan guru di sekolahnya.

Ia ingin memastikan bahwa pendekatan tersebut dapat diterapkan lebih luas, sehingga semakin banyak siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang empati dan keberagaman.

Baca juga: Breaking Down the Wall: PeaceGen dan EGD Hadirkan Ruang Dialog Lintas Budaya melalui Workshop Intercultural Understanding and Global Dialogue

Langkahnya kemudian tidak berhenti pada berbagi dengan sesama guru. Pak Agus juga mendorong agar 12 NDP dapat menjadi bagian dari kegiatan dan pembelajaran di sekolah.

Ia mengusulkan penerapan 12 NDP dalam Kurikulum P5 dan orientasi siswa baru. Baginya, mengenalkan nilai-nilai tersebut sejak dini dapat membantu siswa membangun pemahaman tentang keberagaman sejak awal mereka memasuki lingkungan sekolah.

Apa yang awalnya dimulai dari pengalaman belajar Pak Agus bersama PeaceGen kemudian berkembang menjadi sebuah upaya untuk membawa perubahan di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah mengenalkan dan mengajak SMK Gema Nusantara 5 terlibat dalam program Breaking Down the Wall dari PeaceGen untuk berinteraksi dengan sekolah lain yang berbeda latar belakang. 

Dari Satu Sekolah ke Sekolah Lain

Melihat bagaimana pendekatan tersebut membantu siswa di sekolahnya, Pak Agus mulai berpikir lebih jauh.

Ia menyadari bahwa tantangan tentang keberagaman tidak hanya dihadapi oleh satu sekolah. Karena itu, pengalaman dan pembelajaran yang ia dapatkan ingin ia bagikan kepada lebih banyak pendidik.

Pak Agus kemudian mulai mengenalkan 12 NDP kepada guru-guru di sekolah lain. Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat diterapkan di lebih banyak lingkungan pendidikan dan membantu semakin banyak siswa memahami keberagaman.

Bagi Pak Agus, pendidikan tentang keberagaman bukan hanya tentang mengenal bahwa setiap orang memiliki perbedaan. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang belajar hidup bersama dengan empati dan saling menghargai.

Baca juga: Co-Founder PeaceGen, Irfan Amali, Terpilih menjadi Nominasi Harmony in Diversity Awards

Perjalanan Pak Agus bersama PeaceGen menunjukkan bahwa lingkungan yang homogen bukanlah batas untuk menciptakan sekolah yang inklusif. Dengan pendekatan yang tepat, ruang kelas dapat menjadi tempat bagi siswa untuk mengenal perspektif yang berbeda, membuka diri, dan belajar menghargai keberagaman.

Dari satu kelas, perubahan itu mulai tumbuh. Dari satu sekolah, Pak Agus kemudian membawanya lebih jauh. Perjalanan tersebut terus berlanjut, bersama keyakinannya bahwa semakin banyak siswa yang belajar memahami keberagaman, semakin siap pula mereka menghadapi dunia yang penuh dengan perbedaan.

Bagikan