Cross-Country Learning JISRA: Menghidupkan Nilai Kemanusiaan Melalui Sejarah dan Budaya

Bandung kembali menjadi saksi bisu sebuah gerakan perubahan. Pada hari kedua workshop Cross-Country Learning Event on Youth, Digital Safety, and Human Rights yang diselenggarakan Mensen met een Missie bekerja sama dengan JISRA Indonesia serta difasilitasi oleh PeaceGeneration Indonesia (PeaceGen), mengajak para peserta untuk tidak hanya belajar di dalam kelas. Namun, mengajak mereka turun ke jalan, menyusuri jejak sejarah, dan menyelami realitas sosial.

Menelusuri Jejak Diplomasi dan Perjuangan

Rabu, 10 September 2025, Perjalanan dimulai dari Museum Konferensi Asia-Afrika, tempat di mana semangat solidaritas bangsa-bangsa dikukuhkan puluhan tahun silam. Di sini, para peserta diingatkan bahwa kerja sama global bukanlah konsep baru, melainkan warisan yang harus terus dijaga.

Langkah kemudian berlanjut ke Gedung Indonesia Menggugat. Peserta menyelami sejarah bangunan yang pernah menjadi tempat Bung Karno membacakan pledoi legendarisnya. Gedung ini menjadi simbol pengingat bahwa membela keadilan dan hak asasi manusia adalah perjuangan yang memerlukan keberanian moral yang besar.

Baca juga: Peace & Healing untuk Anak-anak Korban Banjir Bandang di Pidie Jaya: Memulihkan Trauma, Menjaga Masa Depan Generasi

Eksperimen Sosial Melalui Permainan "Coreng Mukaku"

Melalui sesi "Coreng Mukaku" yang dipimpin oleh PeaceGen (Jere dan Annisa) hubungan tentang mayoritas dan minoritas dikupas secara tajam.

Peserta diminta memilih antara dua hal (seperti "Kopi vs Teh"). Kelompok mayoritas yang menang diberikan otoritas untuk memberikan tanda "titik" (label) pada wajah kelompok minoritas.

Diskusi setelah permainan mengungkap fakta di dunia nyata, kelompok minoritas sering kali mengorbankan pilihan demi keamanan dan menghindari pengucilan.

Human Library

Setelah bermain coreng mukaku, peserta diajak masuk ke sesi Human Library. Dalam format "kelompok kecil", mereka didorong untuk mengajukan pertanyaan sensitif namun tetap menghormati satu sama lain. 

Setiap orang memiliki hak penuh untuk berkata "tidak" pada pertanyaan yang membuat tidak nyaman. Hal ini merupakan aplikasi nyata dari prinsip empati: bagaimana kita bisa saling mengenal tanpa harus melanggar batas privasi orang lain.

Baca juga: Webinar Literasi Digital: Resolusi 2026: Penguatan Peran Guru Menuju Digital Safe School

Merayakan Keberagaman di Saung Angklung Udjo

Hari yang penuh refleksi mendalam ditutup dengan harmoni di Saung Angklung Udjo. Peserta tidak hanya menonton, mereka ikut menari dan bernyanyi, merayakan esensi Unity in Diversity (Bhinneka Tunggal Ika).

Hari kedua ini memberikan tiga pelajaran fundamental bagi para pemuda:

  1. Memahami bagaimana label dan identitas dapat menciptakan kerentanan, terutama di ruang digital yang sering kali bersifat ganda

  2. Dialog lintas budaya hanya bisa terjadi jika saling menjunjung tinggi rasa hormat

  3. PeaceGen membuktikan bahwa melalui Aktivitas, Refleksi, Konseptualisasi, dan Aplikasi, konsep seperti prasangka bisa dipahami secara mendalam melalui pengalaman langsung

    Baca juga: PeaceGen bersama Dinas Pendidikan Kota Bandung Melakukan Peningkatan Kapasitas Pengawas dan Kepala Sekolah dengan Materi 12 Nilai Dasar Perdamaian dan Literasi Digital

Ingin tahu lebih banyak tentang metode ARKA atau kegiatan PeaceGen lainnya? Mari berdiskusi lebih lanjut!

Bagikan