Peace & Healing untuk Anak-anak Korban Banjir Bandang di Pidie Jaya: Memulihkan Trauma, Menjaga Masa Depan Generasi

Minggu, 21 Desember 2025, menjadi hari yang penuh makna bagi anak-anak di Desa Rhieng Mancang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Di tengah sisa-sisa trauma akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut, sebuah kegiatan Peace Healing digelar sebagai ikhtiar kemanusiaan untuk memulihkan luka psikologis anak-anak terdampak bencana.

Banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan luka batin yang mendalam, terutama bagi anak-anak. Ketakutan berlebih saat hujan turun, sulit tidur, hingga perubahan perilaku menjadi gejala yang banyak ditemui di kalangan anak-anak Desa Rhieng Mancang. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak berhenti pada kerusakan fisik semata.

Dalam kegiatan tersebut, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan ramah anak. Anak-anak diajak bermain bersama, menggambar, bernyanyi, bercerita, serta mengikuti berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk membantu mereka mengekspresikan emosi secara sehat. Gelak tawa perlahan menggantikan kecemasan, dan suasana hangat tercipta di antara anak-anak dan para relawan.

Koordinator kegiatan menjelaskan bahwa Peace Healing bukan sekadar hiburan, tetapi bagian dari proses pemulihan jangka panjang. “Anak-anak adalah kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Jika trauma tidak ditangani sejak dini, dampaknya bisa panjang terhadap tumbuh kembang mereka. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan rasa aman dan harapan,” ujarnya.

Baca juga: Webinar Literasi Digital: Resolusi 2026: Penguatan Peran Guru Menuju Digital Safe School

Selain aktivitas kreatif, para fasilitator juga menyisipkan nilai-nilai perdamaian, empati, dan kebersamaan. Anak-anak diajak untuk saling mendukung, berbagi cerita, dan membangun kembali kepercayaan diri mereka. Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan ketahanan psikologis (resilience) anak-anak dalam menghadapi situasi sulit.

Kegiatan Peace Healing di Desa Rhi Mancang juga mendapat dukungan dari masyarakat setempat. Para orang tua menyambut baik kehadiran relawan dan mengapresiasi perhatian terhadap kondisi mental anak-anak mereka. “Setelah banjir, anak saya sering menangis kalau hujan. Hari ini saya lihat dia bisa tertawa lagi. Ini sangat berarti bagi kami,” ungkap salah seorang orang tua dengan mata berkaca-kaca.

Bagi masyarakat Desa Rhi Mancang, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali rumah dan infrastruktur, tetapi juga memulihkan jiwa dan rasa aman, terutama bagi generasi masa depan. Anak-anak yang sehat secara mental adalah fondasi penting bagi bangkitnya sebuah komunitas.

Kegiatan Peace & Healing ini diinisiasi oleh Peace Generation Aceh bersama para relawan dan fasilitator perdamaian, dengan fokus pada pendampingan psikososial anak-anak terdampak bencana di Desa Rhi Mancang. Sejak pagi hari, puluhan anak berkumpul di lokasi kegiatan dengan antusias yang bercampur rasa cemas. Namun, perlahan berubah menjadi senyum dan tawa.

Bendahara Peace Generation Aceh, Nyanyak Marawan Putri, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan generasi muda dari dampak trauma berkepanjangan, sekaligus wujud tanggung jawab kemanusiaan yang lahir dari solidaritas banyak pihak.

“Peace & Healing yang kami rancang untuk kegiatan ini merupakan salah satu langkah untuk menyelamatkan generasi agar mereka kembali pulih. Kegiatan ini juga terlaksana berkat donasi dari banyak pihak yang telah ikut membantu para korban banjir bandang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa konteks kebencanaan di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, tidak dapat dilepaskan dari pengalaman masa lalu masyarakat setempat.

“Jika ditarik ke belakang, kawasan Meureudu, Pidie Jaya ini pernah mengalami bencana besar saat gempa tahun 2016. Artinya, tanpa disadari masyarakat hidup dalam trauma berlapis dan terus berada dalam ketakutan. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan karena mereka tumbuh dalam situasi tersebut,” jelas Nyanyak.

Baca juga: Cross-Country Learning JISRA: Menghidupkan Nilai Kemanusiaan Melalui Sejarah dan Budaya

Menurutnya, Peace & Healing menjadi salah satu ikhtiar untuk memutus mata rantai trauma dan membantu anak-anak kembali menjalani rutinitas harian secara perlahan.

“Anak-anak telah kehilangan banyak hal rasa aman, ruang bermain, hingga kenyamanan dalam aktivitas sehari-hari. Proses pemulihan ini membutuhkan waktu, dan kami ingin mendampingi mereka agar kembali ceria dan percaya diri,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan Peace & Healing dikemas dengan pendekatan ramah anak. Anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas kreatif seperti menggambar, mewarnai, permainan kelompok, bernyanyi, serta sesi bercerita yang bertujuan membantu mereka mengekspresikan emosi secara sehat. Suasana hangat dan penuh empati tercipta sepanjang kegiatan berlangsung.

Salah satu fasilitator Peace Generation Aceh, Angelica Herlinata, mengungkapkan bahwa perubahan suasana hati anak-anak terlihat nyata sejak awal hingga akhir kegiatan.

“Pada awal kegiatan, beberapa anak masih tampak pendiam dan takut berinteraksi. Namun setelah diajak bermain dan berkreasi bersama, mereka mulai tertawa dan berani mengekspresikan diri. Ini menunjukkan bahwa anak-anak hanya membutuhkan ruang aman dan kehadiran yang penuh empati,” tutur Angelica.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki makna jangka panjang bagi pemulihan psikologis anak-anak di Desa Rhi Mancang, Kecamatan Meureudu.

“Bencana memang merenggut banyak hal dari mereka, tetapi kami ingin memastikan bahwa harapan, keceriaan, dan semangat anak-anak tidak ikut hilang. Peace & Healing adalah langkah kecil namun bermakna untuk masa depan mereka,” tambahnya.

Kegiatan ini juga disambut positif oleh masyarakat Desa Rhi Mancang. Para orang tua mengaku terbantu dengan adanya pendampingan psikososial bagi anak-anak mereka, yang selama ini masih menyimpan ketakutan pascabencana.

Di akhir kegiatan, relawan membagikan perlengkapan belajar dan alat gambar kepada anak-anak sebagai simbol keberlanjutan harapan. Anak-anak diminta menggambar hal-hal yang membuat mereka bahagia dan cita-cita mereka ke depan. Dari gambar-gambar tersebut tergambar impian tentang rumah yang aman, sekolah yang menyenangkan, dan kehidupan yang damai.

Baca juga: PeaceGen bersama Dinas Pendidikan Kota Bandung Melakukan Peningkatan Kapasitas Pengawas dan Kepala Sekolah dengan Materi 12 Nilai Dasar Perdamaian dan Literasi Digital

Melalui kegiatan Peace & Healing di Desa Rhi Mancang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, Peace Generation Aceh menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan jiwa terutama bagi anak-anak sebagai generasi penerus.

Kegiatan ini menjadi pesan kuat bahwa di tengah bencana dan trauma berlapis, solidaritas, empati, dan nilai-nilai perdamaian tetap mampu tumbuh dan menjadi fondasi bagi kebangkitan masyarakat Pidie Jaya.

Bagikan